Pengamat kebijakan publik dan transportasi Agus Pambagio mengatakan, jika Pemprov DKI tidak melakukan perbaikan angkutan umum, maka tarif parkir progresif akan sia-sia.
"Apa dong gantinya (mobil pribadi)? Ada nggak transportasi lainnya? Kalau itu tidak ada gimana dong," kata Agus, saat berbincang dengan detikcom, Selasa (6/5/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia mau niru negara mana. Kalau negara lain kan terintegrated semua. Kalau nggak, mau mimpi?" cetus dia.
Menurut eks pengurus YLKI ini, solusi yang paling tepat sebelum memberlakukan tarif parkir progresif adalah dengan memperbaiki pola transportasi. Dia mencontohkan, untuk TransJakarta (TransJ), harus dilakukan perbaikan pada headway (jarak kedatangan) serta penambahan park and ride di setiap ujung halte TransJ.
"Kalau diambil mahalnya saja, jangan jadi gubernurlah," pungkasnya.
Pada Senin kemarin Gubernur Fauzi Bowo menyatakan, kenaikan tarif progresif dikenakan di kawasan macet.
"Tarif parkir itu harus progresif di tempat-tempat (tertentu) untuk kelancaran lalu lintas. Biaya parkir itu harus lebih tinggi dan harus mahal," kata Foke.
Foke mencontohkan untuk memarkir kendaraan di Singapura selama 3 jam bisa menghabiskan 7 hingga 10 dolar Singapura atau setara dengan Rp 35 ribu.
Menurut Foke, mekanisme tarif progresif sudah disusun berdasarkan kategori wilayah (rayonisasi). Namun hingga kini kebijakan itu belum diterapkan. "Sudah ada izin rayonisasi tapi belum dilaksanakan," ujarnya. (ptr/nrl)










































