Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 12.00 WIB, Senin (5/5/2008). Api diduga berasal dari lilin yang dinyalakan pedagang di sebuah gudang sembako.
"Saat kejadian aliran listrik di pasar memang sedang padam. Ada pedagang di sisi timur yang menyalakan lilin di dalam gudangnya. Mungkin dia lupa matiin terus kebakaran. Api kemudian merambat ke kios sebelahnya yang menjual petasan," ujar Rahmat, salah seorang pedagang, saat dihubungi detikcom melalui telepon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun perkiraan mereka meleset total. Angin yang berhembus kencang menyebabkan api cepat membesar. Dan dalam waktu singkat, api itu merambat hampir ke seluruh kawasan pasar.
"Jadi para pedagang di sisi barat, termasuk saya, tidak siap. Api cepat sekali membesar dan membakar hampir 90 persen kios yang ada. Jumlah kios di Pasar Cisaat ini sekitar 500-an," ungkap Rahmat.
Hal ini membuat banyak pedagang stres dan kebingungan. Mereka tidak menyangka dalam waktu singkat kehilangan seluruh dagangannya. Tidak sedikit pedagang, terutama kaum ibu, yang terlihat menangis histeris.
"Saya sendiri rugi sekitar Rp 25 juta hingga Rp 30 juta," ungkap Rahmat.
Hingga saat ini, meski sudah mengecil, api masih berkobar. Puluhan unit mobil pemadam kebakaran terlihat hilir mudik di lokasi kebakaran. (djo/nrl)










































