Di SMPN 25 Surakarta, puluhan soal Bahasa Indonesia yang diujikan pada hari pertama ini diketahui dalam kondisi rusak. Kondisi ini mengganggu kelancaran siswa dalam mengerjakan soal. Ada soal yang tertutup tinta cetakan sehingga sulit bagi siswa untuk membacanya.
Masih di SMPN 25, Wenny Astriana, salah satu peserta ujian semula mengikuti ujian seperti teman-temannya. Sepuluh menit membaca soal-soal yang ada di, tiba-tiba dia merasakan pusing dan kemudian dia muntah-muntah. Panitia pelaksana UN membawanya ke unit kesehatan sekolah (UKS) untuk mendapatkan pertolongan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Siswa Berkebutuhan Khusus
Kondisi berbeda terjadi di SMP YPAC, beberapa siswa penyandang cacat yang mengikuti UN harus dibantu pengawas untuk melingkari kolom jawaban. Langkah tersebut terpaksa harus dilakukan bagi sejumlah siswa yang menderita gangguan motorik sehingga kesulitan melingkari bundaran lembar jawaban.
"Ada anak-anak penderita gangguan motorik yang kesulitan membuat bulatan lingkaran di lembar jawaban secara tepat. Misalnya bulatannya melebar di luar bundaran yang disediakan. Akhirnya kami menulis ulang jawaban siswa di lembar jawaban agar lebih tepat dan akurat tanpa mengubah jawaban siswa," ujar Kepala SMP YPAC, Khaulani.
Jika tidak dilakukan penulisan ulang seperti itu, dikhawatirkan jawaban benar dianggap salah oleh komputer karena kesalahan teknis yang dilakukan akibat keterbatasan siswa berkebutuhan khusus tersebut.
"Seharusnya ada aturan tersendiri berupa lembar jawaban khusus bagi siswa-siswa berkebutuhan khusus ini. Bagi anak-anak penyandang gangguan motorik akan kesulitan mengisi lembar jawaban yang kolom jawabannya terlalu kecil. Seharusnya disediakan lembar jawaban dengan kolom lebih besar atau kalau perlu ada ujian tersendiri, misalnya ujian lisan," lanjut Khaulani.
(mbr/djo)











































