Gus Dur telah meninggalkan Indonesia pada Minggu (5/5/2008) kemarin. Dengan menggunakan pesawat Eva Air, Gus Dur yang didampingi istrinya, Sinta Nuriyah terbang ke negeri Paman Sam.
Di AS, Gus Dur akan menerima sejumlah penghargaan internasional atas sejumlah kiprahnya selama ini. Salah satu pemberi penghargaan adalah LSM Yahudi bernama Simon Wisenthal Center.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bisakah Gus Dur bertemu para capres itu, terutama Obama? Bila ya, bisa jadi, Gus Dur menjadi tokoh politik Indonesia yang bertemu mereka di sela-sela pertarungan mereka untuk menjadi presiden AS menggantikan George W Bush. Selama ini, tokoh-tokoh politik Indonesia pulang dengan tangan hampa, tak bisa bertemu para capres AS, terutama Obama.
PDIP misalnya. Pada Juni 2007 lalu, sejumlah tokoh PDIP yang dipimpin Taufiq Kiemas bertandang ke AS dan menjadwalkan bertemu Obama. Namun, rombongan yang terdiri dari Emir Moeis, Andreas Pareira, Hasto Kristianto, Helmy Fauzi, M Yamin, Budiman Sudjatmiko, dan Muhammad Ikhsan Yunus itu gagal bertemu Obama. Meski begitu, mereka bisa menemui senator penting AS dan menemui tokoh-tokoh penting di AS.
Pertemuan dengan Obama, bagi politisi-politisi Indonesia menjadi sangat penting. Salah satunya karena Obama merupakan calon kuat presiden AS yang berpeluang mengalahkan Hillary Clinton dalam pemilu pendahuluan yang akan berakhir dalam waktu dekat ini. Hingga Senin (6/5/2008), jumlah delegasi yang dikumpulkan Obama masih lebih besar dibanding yang diraih istri Bill Clinton itu.
Selain itu, Obama juga menjadi bahan pembicaraan masyarakat Indonesia dalam setahun terakhir. Sebab, semasa kecilnya, Obama pernah tinggal selama lima tahun dan bersekolah SD di Jakarta. Berhasilkan Gus Dur bertemu Obama?
(asy/asy)











































