Wiesenthal, LSM Yahudi Penjunjung Toleransi

Wiesenthal, LSM Yahudi Penjunjung Toleransi

- detikNews
Sabtu, 03 Mei 2008 19:16 WIB
Wiesenthal, LSM Yahudi Penjunjung Toleransi
Jakarta - Simon Wiesenthal Center jelas-jelas memproklamasikan dirinya sebagai LSM pelindung Yahudi. Berbagai program sudah terorganisasi rapi untuk mendukung tujuan mereka.

Salah satunya adalah membentuk Museum Toleransi. Alih-alih penyimpanan benda bersejarah, Museum Toleransi adalah pusat pendidikan.

"Didirikan sejak tahun 1993 untuk mengkonfrontasikan pengunjung pada bigotri dan rasisme, dan untuk memahami holocaust secara historis maupun kontekstual," demikian sekilas penjelasan soal Museum Toleransi yang didapat detikcom lewat situs resmi Simon Wiesenthal Center di http://www.wiesenthal.com.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pusat pendidikan tersebut didatangi 350.000 tiap tahunnya, termasuk 130.000 di antaranya menjadi murid. Program pendidikan di Museum Toleransi mencakup beberapa hal sebagai berikut.

-Tools for Tolerance - Sebuah program harian yang memanfaatkan sarana Museum untuk membahas isu-isu keragaman dan toleransi. Kini, museum telah melatih lebih dari 100.000 profesional, termasuk tenaga pendidik, dan tenaga penegak hukum di California.

-Teaching Steps to Tolerance - Program nasional museum yang dirancang untuk tenaga pendidik kelas 5 dan 6 serta pustakawan sekolah untuk mengintegrasikan nilai-nilai toleransi di kurikulum sekolah.

-Task Force Against Hate - mengkonfrontasikan ektrimis dengan cara mengembangkan strategi untuk memerangi penyangkalan holocaust dan mendidik siswa tentang antisemit dan bigotri dengan cara pelatihan yang diadakan di segala penjuru daerah.

-National Institute Against Hate Crimes - Pusatnya, dengan dukungan dari Departemen kehakiman AS melatih penegak hukum profesional.

-Tools for Tolerance for Teens - Pelatihan toleransi untuk remaja.

Simon Wiesenthal Center tidak hanya bergerak pada bidang pelatihan toleransi. Mereka juga bergiat lewat sarana film dengan bendera Moriah Films.

"Moriah telah menghasilkan 9 film sampai dengan saat ini. Dua di antaranya mendapat penghargaan Academy Award untuk film dokumenter terbaik, yakni 'The Long Way Home' (1997) dan 'Genocide' (1981)." (gah/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads