Bila musim melabuh hujan tak turun
kubasahi kau dengan denyutku
Bila dadamu kerontang,
kubajak kau dengan tanduk logamku
Di atas bukit garam kunyalakan otakku
Lantaran aku tahu, akulah anak sulung yang sekaligus anak bungsumu
Aku berani mengejar ombak
Aku terbang memeluk bulan
Dan memetik bintang gemintang di ranting-ranting roh nenek moyangku
Di bubung langit kuucapkan sumpah
Madura, akulah darahmu.
Puisi ini dibacakan mantan Gubernur DKI itu seusai menyampaikan presentasinya dalam Seminar Nasional 'Madura Pasca Pembangunan Jembatan Suramadu' di Bangkalan, Madura, Sabtu (3/4/2008). Demikian siaran pers tim Sutiyoso yang diterima detikcom.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak mau kalah dengan Sutiyoso, sang pemilik puisi juga membacakan puisi karyanya yang berjudul 'Ibu'. Puisi Zawawi ini pernah mendapat penghargaan internasional.
Kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
Sumur-sumur kering, daunpun gugur bersama reranting
Hanya mata air airmatamu, ibu, yang tetap lancar mengalir
Bila aku merantau
Sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
Di hati ada mayang siwalan memutikkan sarisari kerinduan
Lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar
Duet pembacaan puisi itu mendapat sambutan yang hangat dari para peserta seminar. Mereka berdiri sambil bertepuk tangan panjang. Sutiyoso sendiri merupakan anggota Dewan Kehormatan Persatuan Anak Guru Indonesia (PAGI) karena bapaknya seorang guru di Semarang, Jawa Tengah.
Dalam paparannya Sutiyoso mengingatkan bahwa pembangunan jembatan Suramadu akan berdampak terhadap eskalasi pembangunan di Madura. Para guru berkewajiban untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sehingga warga Madura tidak hanya menjadi penonton di tengah derasnya laju pembangunan. (asy/asy)











































