Jika konflik PKB dengan bumbu saling mencela dan segala implikasinya tidak dipandang sebagai aib oleh kaum Nahdliyyin, maka sungguh patut ditangisi dengan doa semoga itu bukan alamat diangkatnya rahmat dari tubuh gerakan yang dirintis KH Hasyim Asy'ari 82 tahun silam. Sikap ahlakul karimah, tawadlu dan tabayyun seperti telah raib berganti serba berangasan dan adu domba.
Tidak tanggung-tanggung konflik melibatkan Gus Dur (cucu langsung Hadratus Syaikh), Yenny keturunan Gus Dur alias sang buyut cicit, dan melebar ke samping melibatkan keponakan. Seharusnya hal ini sudah cukup bagi para kiai NU untuk berkumpul, bermusyawarah, lalu mengambil tindakan: istirahatkan Gus Dur. Bukan berarti Gus Dur divonis tidak baik dan sumber masalah. Tapi kondisinya yang terbatas pascaserangan stroke sampai tiga kali, ditambah keterbatasan-keterbatasan lainnya, menjadikan Gus Dur sangat rentan dimainkan kelompok kepentingan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika cinta NU dan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy'ari, maka tidak bisa tidak istirahatkanlah Gus Dur. Mengapa tidak berani? Mencintai dan menghormati Gus Dur itu satu hal, tapi menyelamatkan gerakan warisan KH Hasyim Asy'ari dan nama baiknya itu hal lain. Mempertahankan Gus Dur pada fungsi sekarang, hanya akan memperpanjang aib dan fitnah.
Keterangan penulis:
Penulis adalah koresponden detikcom di Belanda. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja.
(es/es)











































