Serangan Udara AS di Somalia Bunuh Pimpinan Alqaeda

Serangan Udara AS di Somalia Bunuh Pimpinan Alqaeda

- detikNews
Jumat, 02 Mei 2008 04:09 WIB
Mogadishu - Sebuah serangan udara yang dilancarakan tentara Amerika Serikat (AS) menewaskan 12 orang, termasuk pimpinan militer Alqaeda dalam sebuah perang kota di Somalia.

Pimpinan kelompok militan, Moalim Aden Hashi Ayro, pernah berlatih dengan Alqaeda di Afghanistan. Ayro yang telah menjadi target sejak 2007, juga diduga terlibat dalam peristiwa tewasnya pekerja sosial di Somalia.

Meski demikian, Pentagon enggan berkomentar mengenai serangan tersebut. Pentagon juga enggan menyebut identitas meski operasi itu terbilang berhasil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hingga kami mendapatkan kesempatan menganalisa serangan, kami tidak akan mengumumkan informasi apapun," kata juru bicara Departemen Pertahanan AS Letnan Joe Holstead kepada AFP, Kamis (1/5/2008).

Pemerintah Ethiopia, sekutu AS di Afrika, mengatakan serangan udara itu dilakukan di sebuah rumah di Dhusamareb, wilayah Galgudud, Somalia tengah. "Serangan ini sepenuhnya dilakukan AS," kata Menteri Inforasi Ethiopia Berhane Hailu.

"Serangan ini akan melemahkan Alqaeda di Somalia. Serangan itu juga memiliki arti penting bagi perdamaian dan stabilitas di Somalia," imbuhnya.

Jamal Mohamoud, penduduk setempat, menjelaskan pesawat tempur AS menjatuhkan 3 bom besar di rumah tersebut pada pukul 14.00 waktu setempat.

"Kami masih mengumpulkan puing-uing rumah yang telah hancur total. Sejauh ini kami menemukan 10 mayat, termasuk Ayro. 3 orang yang luka-luka telah dibawa ke rumah sakit," tutur Abshir Moalim Ali, sesepuh di Dhusamareb.

"2 Orang yang telah dibawa ke rumah sakit telah meninggal. Mereka warga sipil yang yang menderita luka serius di dekat rumah tersebut," tutur sesepuh lainnya, Hussein Haji Mohamed.

Ayro merupakan pemimpin militer Shabab, kelompok yang masuk dalam daftar teroris AS.

Mengenai peristiwa itu, juru bicara Shabab Sheikh Mukhtar Robow menyatakan, Ayro dan pejuang lainnya, Sheikh Muhyadin Omar, telah tewas dalam serangan itu.

"Pesawat AS memborbardir kami di Dhusamareb. Ini sebuah serangan tanpa alasan," ujar Robow.

Robow menjelaskan, Ayro dan Omar merupakan anggota Shabab yang paling penting. "Mereka meninggal saat berjuang untuk kebebasan tanah mereka," pungkasnya.
(ary/ary)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads