Di dalam ruang riset, pemantauan detikcom, hanya terlihat peneliti Indonesia yang tekun dengan mikroskop dan peralatan lain. Tidak ada satu warga asing pun yang berada di antara mereka.
"Mereka kebanyakan menjadi kepala departemen dalam riset-riset NAMRU-2," ujar seorang peneliti yang tidak mau disebut namanya di NAMRU-2, Jl Percetakan Negara, Jakarta, Selasa (30/4/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau riset kita juga sudah pengalaman," ujar perempuan berjilbab ini.
Namun menurut dia, pada awal NAMRU-2 berdiri di Indonesia, para ilmuwan AS terjun langsung dalam riset. "Kalau riset soal nyamuk, mereka kasih tangan mereka sendiri buat dihisap darahnya," cetusnya.
"Kalau mau lihat mereka dimana, tuh dia," ujar dia menunjuk sebuah ruang kerja di sudut laboratorium dengan pintu berjendela. Seorang pria kulit putih duduk dalam ruang kerja kantoran, menatap serius layar komputer di depannya.
Keberadaan ilmuwan asing dipermasalahkan karena kekebalan diplomatik yang dimiliki mereka. Dalam kesempatan itu Wakil Dubes AS John Heffern mengatakan kekebalan mereka tidak sama dengan para diplomat.
"Mereka staf administrasi dan teknik. Kekebalan mereka lebih rendah dari diplomat. Semoga hal ini selesai dibahas dalam MoU yang baru," pungkas dia kepada wartawan. (fay/asy)











































