"Itu (ziarah) cara lama ya. Kalau cara baru banyak sekali, relatif. Seperti melihat apa yang benar-benar dibutuhkan rakyat, bagaimana mendapatkan kebutuhan pokok murah," ujar pakar komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI) Effendy Gazali dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (30/4/2008).
Effendi mencontohkan safari politik yang dilakukan Wiranto yang memakan nasi aking untuk menarik hati pendukungnya. Atau safari seorang capres ke daerah yang penduduknya banyak antre minyak tanah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kalau bisa, imbuhnya, maka komunikasi politik itu akan membawa hasil yang bagus. Kalau tidak, maka bisa dikatakan siapa pun presidennya tidak akan bisa menyelesaikan masalah dasar itu, kecuali dengan mengubah sistem.
"Dan itu sulit. Makanya capres lebih memilih ziarah," tutur dia.
Penasihat Republik Mimpi ini mengatakan ziarah memang bisa menarik hati calon pendukung. Karena capres tersebut berusaha membangun kedekatan dengan para calon pendukung.
"Tergantung targetnya. Untuk mengambil hati Soekarnois, itu (ziarah ke makam Bung Karno) dianggap efektif menarik perhatian. Sama saja yang ingin dikejar, termasuk ziarah ke para wali dan tokoh penting lainnya," kata dia.
Sutiyoso yang telah mencapreskan diri, pada Selasa kemarin berziarah ke makam Sunan Drajad dan Sunan Giri di Jawa Timur. Sedangkan pertengahan bulan ini Wakil Ketua Umum Partai Golkar Agung Laksono ziarah ke makam Bung Karno di Blitar. (nwk/nrl)











































