"Jika anda buang Gus Dur, anda tidak akan dapat apa-apa. PKB sendiri, ruhnya adalah Gus Dur," ujar pengamat politik Fachry Ali saat menjadi nara sumber dalam diskusi yang diselenggarakan oleh PKB versi Gus Dur di Kantor DPP PKB, Jl Kalibata Timur, Jakarta, Selasa (29/4/2008).
Kata-kata Fachry tersebut seolah-olah menyindir Cak Imin, yang saat ini sedang menjadi 'lawan' Gus Dur.
Menurut Fachry, konflik yang saat ini terus menerus di tubuh PKB membuatnya bertanya, apakah memang warga nahdliyin tidak cocok berpolitik. "Karena saat masuk politik mereka berkelahi terus," ujarnya.
Namun demikian, menurut Fachry, perpecahan yang saat ini sudah di depan mata dan telah berlangsung selama berulang-ulang di PKB, merupakan sesuatu yang tidak bisa dielakkan. "Kalau anda berpolitik, pasti akan ada konflik," ujarnya.
Fachry juga menyindir para elit di PKB yang begitu cepat berubah menjadi sosok yang elitis. Padahal, saat menjadi warga nahdliyin biasa, mereka tampak bersahaja, seperti warga NU pada umumnya.
"Orang-orang NU masuk PKB, tiba-tiba berkuasa dan mempunyai jabatan, hilang rasa keikhlasan," imbuhnya.
Alasan inilah, menurut Fachry, salah satu penyebab makin banyaknya konflik di tubuh partai berlambang bintang sembilan ini.
Dalam keadaan seperti inilah, lanjut Fachry, posisi Gus Dur sangat diperlukan. Karena menurutnya, selama ini Gus Dur dalam memperjuangkan PKB tidak memiliki tujuan lain kecuali ingi membesarkan PKB.
Ditengah ancaman perpecahan PKB, Fachry pun memiliki sebuah keyakinan tentang masa depan NU. Meski PKB terus bersengketa, alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini tetap yakin warga NU tetap bisa bersatu.
"Massa NU adalah massa yang guyub. Suatu saat kelak, NU akan menjadi komunitas yang solid," tandasnya. (anw/fay)











































