Dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (29/4/2008), Rajab mengaku perbedaan perilakunya karena dia sakit hati dituding mencuri mobil Alphard milik Al Amin.
"Saya dikatai maling," ujar pria kelahiran 1961 ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena mau dijual, mobil itu pun sepakat untuk dititipkan ke rumah Rajab di kawasan Pancoran. Semua berkas dan surat-surat Alphard pun diberikan ke Rajab.
"Saya simpan dengan baik karena masih percaya Amin. Padahal istri saya nggak mau. Saya lalu tunggu perintah untuk jual, kode-kodean sama Jimmy (sopir Al Amin) untuk dilepas (dijual)," kata dia.
Rajab pun mengusulkan menjual mobil tersebut ke Kemayoran. Namun Al Amin memilih di Pecenongan, tempat langganan Al Amin.
Kemudian Rajab mendengar mobil Alphard tersebut akan disita KPK. "Lalu inisatif saya sendiri untuk jual ke pembeli tertinggi dengan harga Rp 300 juta. Karena untuk komisi, sisanya tinggal Rp 270 juta. Uang itu mau saya kasih Uwa (Ibunda Al Amin)," jelas pria yang berprofesi sebagai pengusaha bidang telekomunikasi ini.
Namun pada 21 April 2008, sopir Al Amin datang ke rumah Rajab. "Di situ Jimmy marah. Kata Jimmy, kalau begitu berarti Bapak melanggar amanah," kata pria beranak 4 ini.
Jimmy lantas pulang dan tidak lama kemudian Jimmy datang lagi. "Saya harus ketemu dengan pembelinya. Kalau begitu Bapak maling," ujar Rajab mengutip pernyataan Jimmy.
Karena dikatakan sebagai maling, Jimmy pun diusi keluar rumah. Rajab tersinggung dituduh maling oleh 'kaki tangan' Jimmy.
Rajab menceritakan, dia tahu detik-detik sebelum penangkapan Al Amin cs di Hotel Ritz Carlton dari Arya, teman Al Amin yang sempat diciduk KPK. Dia juga sering mendampingi Arya pascapenangkapan Al Amin untuk bertemu dengan sejumlah orang, termasuk Sirra Prayuna, pengacara Al Amin.
Sementara Sirra Prayuna mengaku bahwa Rajab sok tahu dan menyangkal semua informasi Rajab.
(nik/nrl)











































