Banyak Alternatif, Belum Jalan

Menuju Kenaikan BBM (3)

Banyak Alternatif, Belum Jalan

- detikNews
Senin, 28 Apr 2008 13:06 WIB
Banyak Alternatif, Belum Jalan
Jakarta - “Naik mobil mewah masak masih menggunakan BBM yang bersubsidi, apa nggak malu?” Tulisan seperti itu tergantung di sejumlah SPBU, salah satunya misalnya di wilayah Pancoran, Jakarta Selatan. Spanduk yang berukuran 1x 1,5 meter  itu sengaja dipajang sebagai sindiran  bagi orang-orang berduit yang masih menggunakan BBM bersubsidi.

Pesan ini bagi Sudaryatmo dari YLKI sangat baik sebagai upaya penghematan BBM bersubsidi terjadi di negara ini. Namun sebaiknya pemerintah juga harus memberikan satu contoh kongkret agar masyarakat bisa melihat panutannya melakukan penghematan.

“Di atas kertas program yang dilakukan oleh pemerintah sangat baik. Apakah pelaksanaannya mereka mau melakukannya?” kata Sudaryatmo kepada detikcom.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sudaryatmo menduga, ajakan penghematan ini merupakan salah satu cara menutupi ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola sumber minyak nasional.

Ajakan saja tanpa memberikan contoh bisa diibaratkan hanya mengobral janji saja. Para pejabat diharapkan bisa memberikan contoh yang konkret. Di luar negeri, seperti Belanda, para pejabatnya rela mengayuh sepeda  pulang-pergi ke kantor untuk mensosialisasikan program hemat energi yang dicanangkan.

Selain memasyarakatan hemat BBM di kalangan birokrat,  Alvin Lie, Anggota Komisi VII DPR menganjurkan, seharusnya pemerintah dapat  melihat peluang lainnya, yaitu peluang subsektor perkebunan sebagai sumber energi alternatif. Sebab, katanya lagi, peluang tersebut cukup terbuka, khususnya untuk produk berbasis kelapa sawit. Pengembangan biodiesel berbasis CPO merupakan suatu peluang yang nyata.

Di sejumlah negara, seperti Jerman dan Australia produk BBM berbasis minyak nabati (minyak bunga matahari) sudah dikembangkan. Sedangkan di negeri jiran Malaysia, sudah mulai dikembangkan biodiesel berbasis CPO. Sementara Indonesia saat ini baru mulai merintis pengembangan biodisel di Pusat Penelitian Kelapa Sawit, ITB, dan BPPT.

"Dengan biaya produksi masih bervariasi antara Rp 2.700-Rp 5.500 per liter, biodiesel diyakini akan menjadi sumber energi alternatif masa depan. Di samping itu, pengembangan energi alternatif seperti ethanol dari tebu dan singkong juga mempunyai potensi yang cukup besar,” kata Alvin Lie.

Salah satu contoh adalah Brazil dengan kebijakan switch policy antara menggunakan tebu menjadi gula dan energi alternatif atau ethanol. Ketika harga gula rendah sementara harga minyak bumi tinggi seperti sekarang, tebu yang diolah menjadi etahnol ditingkatkan. Upaya ini sekaligus merupakan bentuk pengurangan risiko harga bagi para petani tebu.

Sedangkan Yuli Setyo Indartono, pakar teknologi energi dari ITB menjelaskan, berbagai produk samping dan limbah kelapa sawit juga berpeluang besar sebagai sumber energi alternatif. Sebagai contoh, sebuah pabrik kelapa sawit dengan kapasitas pengolahan 200.000 ton TBS per tahun akan menghasilkan sebanyak 44.000 ton Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS). Nilai TKKS kering adalah 15.5 MJ per kilogram, dengan efisiensi konversi energi sebesar 25%, dari energi tersebut setara dengan 1.9 megawatt-electric.

Dengan kenaikan harga BBM yang selalu menekan aspek ekonomi masyarakat, berbagai strategi penghematan dan penggunaan sumber energi alternatif harus terus dipacu. Terutama BBM berbasis CPO. Sebab Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor terbanyak CPO di dunia. Selain itu, BBM alternatif ini ramah lingkungan dan berkelanjutan. Karena bahan baku selalu tersedia dan juga dapat menjadi katup penyangga untuk mengurangi fluktuasi harga CPO, seperti pengolahan tebu untuk ethanol di Brazil. (ron/ddg)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads