CIDES: KPK Terbukti Menakutkan Bagi 'Koruptor'

CIDES: KPK Terbukti Menakutkan Bagi 'Koruptor'

- detikNews
Minggu, 27 Apr 2008 14:19 WIB
Jakarta - Kecaman berbagai pihak pada pernyataan 'tidak simpatik' Ahmad Fauzi, anggota Fraksi Partai Demokrat DPR RI yang menghendaki pembubaran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), menunjukkan masyarakat telah merasakan kehadiran KPK dalam pemberantasan praktek korupsi serta untuk menjerat para koruptor. KPK juga diniscayakan lembaga yang terbukti menakutkan bagi 'koruptor'.

Demikian ditegaskan Syahganda Nainggolan, Direktur Eksekutif Center for Information and Development Studies (CIDES) secara tertulis pada detikcom, Minggu (27/4/2008).

Menurut Syahganda, peran KPK dinilai cukup ampuh untuk mengerem tindak perbuatan korupsi baik di tingkat pusat maupun daerah. "Bahkan, sudah banyak koruptor yang berhasil ditebang oleh KPK, sehingga tidak sedikit uang negara berhasil diselamatkan," jelas Syahganda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun demikian, Syahganda mengaku optimalisasi KPK membongkar lebih banyak lagi kasus korupsi, perlu ditingkatkan guna membuat rasa takut siapa pun melakukan korupsi, selain menjadikan orang jera mengulangi korupsi.

"Sebab, korupsi di Indonesia memang sedemikian parah serta banyak yang melakukannya berulang-ulang, meski telah mendapat hukuman," ujar Syahganda. Dikatakan, KPK harus berupaya menjadikan koruptor mendapatkan hukuman berat.

Anti Pemberantasan Korupsi

Terhadap pandangan yang menginginkan pembubaran ataupun menghalangi tugas KPK, Syahganda menilai tidak proporsional sekaligus hanya mempermalukan diri sendiri. Sikap seperti itu, katanya, wujud dari cara berpikir warisan Orde Baru yang anti pemberantasan korupsi.

"Jadi, sikap itu harus dilawan oleh seluruh elemen bangsa yang anti korupsi," tegas Syahganda serius.

"Jika tidak dilawan, sama saja kita membiarkan adanya teror pada KPK," tegasnya, lagi. Apalagi, sikap yang ingin 'memberangus' KPK, itu dianggap membahayakan pelaksanaan reformasi hukum serta dapat melukai harapan rakyat untuk keadilan.

Ditambahkan, kehendak membubarkan KPK oleh politisi Partai Demokrat, itu jelas bukan sikap biasa karena pada sisi lain, hal itu menggambarkan kerapuhan moral selaku anggota dewan yang tidak siap mendorong lahirnya pemerintahan bersih.

"Kita tidak mengerti, apakah Ahmad Fauzi justru menjadi bagian yang mendukung terjadinya korupsi," tanya Syahganda.

Padahal, lanjut Syahganda, Ahmad Fauzi yang mewakili pendukung utama Presiden SBY, seharusnya bisa berkaca pada sikap SBY yang memiliki komitmen luhur mengedepankan pemberantasan korupsi. "Namun anehnya, Ahmad Fauzi ternyata tidak pandai belajar atas isyarat yang jelas dari sikap politik dan komitmen moral SBY tersebut," ujar Syahganda heran. (nrl/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads