Pengakuan tersebut muncul dalam surat yang dilayangkan Menlu Hassan Wirajuda kepada Menkopolhukam, Menhan, dan Menkes. Salinan surat yang diterima detikcom bernomor 231/PO/VIII/2004/61/01, teratanggal 25 Agustus 2004 dan berklasifikasi rahasia.
Hassan mencatat SARS, flu burung, dan demam berdarah adalah penyakit yang kerap menjangkiti masyarakat Indonesia. Bahkan demam berdarah dalam kurun waktu 1 Januari sampai 9 Maret 2004 telah mewabahhampir di seluruh provinsi di Indonesia dengan korban mencapai 29.643 orang, 408 orang di antaranya meninggal.
Karena sudah mengkhawatirkan maka wabah demam berdarah saat itu dikategorikan sebagai kejadian luar biasa (KLB). Nah, NAMRU yang mempunyai misi 'prevention and control of infectious disease in Southeast Asia' justru tenang-tenang saja.
"Kami tidak memperoleh informasi apapun tentang adanya hasil penelitian di NAMRU-2 terhadap bencana nasional tersebut," kata Hassan dalam surat itu.
Anehnya lagi, tatkala tidak memberikan kontribusi apapun, penelitian di NAMRU justru meningkat. "Tercermin dari tingginya jumlah impor barang keperluan riset (bilogical, obat-obatan, komputer, dan peralatan lab) dan jumlah impor barang pindahan staf masing-masing 134 kali dan 21 kali," ungkap Hassan.
NAMRU juga diduga kuat melakukan kebohongan publik soal jumlah staf warga negara AS yang memegang paspor diplomatik. Hassan mencatat 34 staf NAMRU dengan status staf administrai dan teknik pemegang paspor diplomatik. Padahal, menurut keterangan di website NAMRU disebutkan jumlah staf WN AS hanya 21 orang. (gah/gah)











































