"Saya kira itu dia sudah gila. Tidak usah dihiraukan politisi yang saraf-saraf itu," kata Koordinator Divisi Korupsi Politik ICW Ibrahim Fahmi Badoh dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (25/4/2008).
Menurut Fahmi, pernyataan itu bukan muncul dari persoalan koordinasi antarkedua institusi itu. Namun lebih sebagai bentuk perlawanan balik dari politisi DPR yang tidak menghargai hukum.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, lanjut Fahmi, pernyataan politisi Partai Demokrat bisa menjadi masukan bagi masyarakat.
"Semua bisa melihat mana politisi yang korup, mana yang tidak. Publik bisa mengevaluasi dari statemen politisi yang tidak mendukung aksi pemberantasan korupsi agar tidak dipilih dalam Pemilu mendatang," jelasnya.
Tak Membaik
Fahmi pun menyangkal keras pernyataan yang menyebut KPK patut dibubarkan dengan alasan kejaksaan dan kepolisian sudah bekerja dengan baik.
"Membaik apanya? Suap masih terjadi di kejaksaan. Setiap hari masih ada polisi yang ditangkap karena kasus illegal logging. Mana yang dibilang membaik?" ujarnya.
"Itu semua pernyataan yang membodoh-bodohi masyarakat. Saya rasa masyarakat semakin kehilangan harapan terhadap DPR. Apalagi menjelang 2009, makin kelihatan DPR yang memburu pundi-pundi uang," urai Fahmi. (fiq/nrl)











































