"Ketinggian semburan ini memang sempat mencapai 3 meter, tapi kini yang tertinggi mencapai 1,5 meter," kata Kepala Humas Pertamina EP Region Sumatera Field Prabumulih, Ali Syahbana, melalui telepon, Jumat (24/04/2008) pagi.
Β
Sementara injeksi lubang sumur selebar dua meter dan sedalam 400 meter belum dapat dilaksanakan, sebab kendaraan yang membawa rig atau pengebor terjerembab masuk lubang akibat jalan yang rusak. "Hujan yang turun menyebabkan jalanan rusak. Jadi, kita belum dapat melakukan injeksi," katanya.
Ali mengatakan masyarakat di sekitar lokasi tidak perlu khawatir, sebab hasil penelitian dari Universitas Sriwijaya lumpur dingin itu tidak mengandung logam, dan PH airnya 7, yang tidak berbahaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Guna mencegah meluasnya lumpur, dua tanggul telah disiapkan Pertamina EP Region Sumatera Field Prabumulih untuk menampung luberan lumpur di sumur gas Stasiun Kompresor Gas (SKG) Merbau (Mbu) 01, Desa Lubai Persada itu sudah penuh. Sebuah tanggul dengan ukuran lebih besar saat ini juga telah disiapkan.
Sementara sumur yang menyemburkan lumpur gas itu sejak dua hari terakhir ini ditutup dengan sebuah tangki besar. Pemasangan tangki tersebut bertujuan untuk mengurangi tekanan semburan. Namun tangki tersebut hanya dijadikan alat agar para pekerja lebih mudah bekerja di dekat lokasi semburan.
Menurut Ali, semburan lumpur ini tidak sama dengan Lumpur Sidoarjo (Lapindo), Jawa Timur. Pasalnya, tingkat kedalaman pengeboran di sumur gas di Desa Lubai Persada yang kini menyemburkan lumpur tidak sedalam yang terdapat di Lapindo.
"Kedalaman sumur yang pada tahun 2002 lalu dibatalkan untuk dikelola ini hanya 400-500 meter," katanya. Pada kedalaman tersebut tekanan gas tidak terlalu tinggi. (tw/djo)











































