"Sejak tahun 1998 Indonesia keberatan, karena dipandang lebih menguntungkan pihak AS ketimbang Indonesia. Terutama adanya permintaan kekebalan diplomatik," kata pengamat intelijen Wawan Purwanto yang dihubungi wartawan di Jakarta, Kamis (24/2/20008).
Menurut Wawan, permintaan AS saat itu dianggap berlebihan dan dan akan menyulitkan pengontrolan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wawan melihat, sinyalemen yang dilakukan NAMRU berbau intelijen tidak ada salahnya. "Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, tuduhan ada agen harus ditindaklanjuti. Kekebalan diplomatik harus dihapus. Kekebalan diplomatik itu hanya untuk Direktur dan Wakil Direkturnya saja," ungkapnya.
Kenapa kontrak NAMRU yang sudah habis ternyata masih berjalan, menurut Wawan, hal ini terjadi karena masih dalam negosiasi.
"Ini bisa dilihat dari kegiatan datangnya Bush bertemu SBY di Bogor tahun 2006. Kegiatan ini tertutup dan undercover maka disebut kegiatan intelijen," tegasnya.
Apakah proyek NAMRU harus ditutup? "Ya, kalau banyak merugikan. Tahun 1991 negara Filipina juga pernah menutup proyek semacam ini. Kalau pun ditutup, saya rasa tidak akan mengganggu hubungan kedua negara, karena ini hanya AL dan Depkes. Jadi, hubungan pendidikan dan pertahanan saya rasa tidak akan terganggu," imbuhnya.
Wawan juga mensinyalir isu dan negosiasi proyek ini akan ditunda-tunda bahkan sampai menjelang Pilpres.
(zal/mly)











































