"Kalau untuk mencari dukungan, Hillary bisa menggunakan isu lain seperti masalah HAM Internasional, sehingga tidak harus menunjukkan ambisinya menjadi 'wanita ganas' yang akan merusak tatanan HAM Internasional," cetus Direktur Eksekutif Cides, Syahganda Nainggolan, dalam siaran persnya ke redaksi detikcom, Rabu (22/4/2008).
Sikap Hillary yang ingin menyerang Iran, itu sebenarnya cermin 'kepanikan' dirinya dalam upaya pemilihan Presiden Amerika Serikat, utamanya menghadapi saingan terberat sesama kubu Demokrat, Barack Obama. Menurut Syahganda, pernyataan Hillary tersebut tidak mendidik, apalagi ditujukan kepada negara berdaulat yang melaksanakan demokrasi dengan baik seperti Iran.
"Pernyataan Hillary sangat kekanak-kanakan serta tidak pantas ditiru siapapun, karena hal itu dapat mengganggu terlaksananya agenda demokrasi di dunia internasional," tambahnya. "Hillary ternyata bukan contoh bagi perjuangan demokrasi," imbuh Syahganda.
Pernyataan Hillary itu merupakan blunder. Negara-negara Islam justru mengharapkan kemenangan calon asal kubu Demokrat, karena diharapkan akan tampil bersahabat membangun kedamaian dan demokrasi.
"Mustinya Hillary belajar dari kesalahan besar yang diciptakan George W Bush, sebab akibat kebijakan brutalnya menghancurkan Irak selaku negara merdeka, telah menimbulkan kesia-siaan yang luar biasa. Tidak saja korban bagi demokrasi, namun juga kemanusiaan," jelas Syahganda.
Cides mengimbau negara-negara Islam tidak tinggal diam terhadap pernyataan Hillary yang anti-demokrasi itu. Bahkan, diharapkan Indonesia sebagai negara berpenduduk Islam terbesar di dunia, mewaspadai dampak atas sikap Hillary yang dapat kurang menguntungkan bagi Indonesia, terkait kerjasama Indonesia dengan Iran ke depan. (aba/fay)











































