"Kita mengerahkan 50 orang," kata Kepala Humas Pertamina EP Region Sumatera Field Prabumulih, Ali Syahbana, kepada detikcom, melalui telepon, Rabu (23/04/2008) siang.
Dijelaskan Ali, lumpur yang keluar dari sumur itu berupa pasir sebesar 35 persen, 17 persen silica, dan sisanya air. "PH airnya 7. Jadi airnya tidak berbahaya," kata Ali.Selain itu, lumpur juga sudah dapat berkurang, dan tidak sebanyak sebelumnya. "Ini tidak mirip dengan lumpur Lapindo," imbuhnya.
Lokasi itu juga sudah mengamankan atau steril seluas 100 meter persegi.
Gempa Bumi
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya warga kabupaten Muaraenim, Sumatera Selatan, dikejutkan semburan lumpur mirip semburan lumpur Lapindo. Semburan lumpur ini berasal dari sumur gas tua di Merbau 01, Desa Lubai Persada, Kecamatan Rambanglubai, Kabupaten Muaraenim, Sumatra Selatan.
"Kami sudah dapat informasi dari warga yang mengkhawatirkan soal lumpur itu. Rencananya, kami akan menurunkan tim investigasi ke lokasi," kata Sadat, aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Selatan, yang tengah menghadiri kegiatan Walhi di Yogyakarta.
Menurut Sadat, semburan lumpur di bekas sumur eksploitasi minyak dan gas ini merupakan yang kali kedua di Rambang Lubai, "Yang pertama, kalau tidak salah tahun 1999 lalu, tepatnya di daerah operasi Beringin 9, Kecamatan Rambang Lubai. Memang saat itu Pertamina berhasil mengatasinya," kata Sadat.
"Kami berharap Pertamina dapat mengatasi persoalan ini sesegera mungkin, sehingga tidak menjadi bencana besar seperti Lapindo," ujarnya. (tw/djo)










































