"Mereka bilang akan membantu (memberi bantuan). Boro-boro membantu, aku cari tamiflu (obat flu burung) aja nggak bisa. Itu sebagai salah satu bukti," kata Menkes Siti Fadilah Supari di kediamannya, Jl Denpasar Raya 14, Kuningan, Jakarta, Selasa (22/4/2008) malam.
Menurut Menkes, adalah hal yang wajar jika negara pemilik virus meminta pembagian keuntungan dari negara yang mengumpulkan virus untuk dibuat vaksin. Nantinya, keuntungan itu akan dikembalikan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat seperti penelitian untuk membuat vaksin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana dengan WHO atau negara maju pengumpul virus dan pembuat vaksin yang menjanjikan mencarikan donor bila harga vaksin terlalu mahal?
"Nggak! Mereka menetapkan kita sebagai peminta-minta. Orang yang tidak mempunyai hak. Vaksinmu itu hakku. Perkoro kowe mengko butuh vaksin mengko tak paringi (Masalah nanti kamu butuh vaksin nanti saya kasih). Kita bangsa yang bermartabat, tidak seperti itu, kita bangsa yang berdaulat. Nggak bisa seperti itu. Tidak segampang itu," tegas ahli jantung yang baru saja meluncurkan buku 'Saatnya Dunia Berubah', yang isinya menggugat ketidakadilan dunia pada sharing virus ini. (nwk/nrl)











































