Saat digiring Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), gadis cantik berkulit putih ini diidentifikasi pelacur. Ketika Kristina Diva dangdut istri Al Amin bicara, menyatakan gadis itu pacar teman Amin dari Bandung. Tapi tidak lama kemudian sumber lain menegaskan gadis ini asal Bengkulu, dan baru akhir hari sosok gadis ini jelas. Dia bernama Efielian Yonata yang tercatat sebagai mahasiswa Universitas Pakuan, dan biasa dipanggil Efiel.
Siapa Efiel de facto dan de jure tidak begitu penting. Ia hanya riak kecil dari sebuah arus besar. Namun menjadi vital manakala soal jender, perempuan, dibicarakan, kiprahnya tersembunyi disibak, dan waktu peristiwa itu terjadi menjadi acuan. Itu karena kisah ini terjadi di bulan April.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kartini menjadi ikon persamaan hak kaum hawa. Melalui goresan dan tindakannya dia melakukan revolusi. Menolak perempuan jadi 'wanita' (wani ditata atau berani ditata) yang implicit grade-nya ada di balik bayang-bayang kuasa lelaki. Dan terang-terangan dia berontak dari sebutan sebagai 'tiyang wingking' (orang yang hidupnya di belakang, di dapur) yang berabad-abad membelenggu kebebasan perempuan.
Kartini bercita-cita jadi perempuan. Ia tidak lega disebut wanita. Sebab di balik kata bermakna sama itu terkandung ketidaksamaan prinsipil. Perempuan adalah simbol kebebasan sekaligus 'keliaran'. Ekspresi persamaan tanpa melihat perbedaan fisik yang memberinya ruang keluasan gerak. Dari sisi ini, makna perempuan jauh dari sebutan wanita yang terbatasi dan terbatas.
Apa yang dilakukan Kartini memang bukan yang pertama. Di belahan dunia lain emansipasi itu telah mendarah daging. Ada Matahari kelahiran Jawa yang mengoyak dunia intelejen. Tampil Maria Antoinette yang berakhir di pisau rajam. Juga muncul sosok Josephine yang melalui feminisme menaklukkan Napoleon si raja laga.
Wanita ini dengan bebas menuruti desakan jiwanya. Status sebagai istri dari raja besar Perancis tidak harus membuatnya terkekang. Dan raja bertubuh pendek yang jauh-jauh hari diramal Nostradamus hanya melalui tiga kata vini vidi vici menaklukkan dunia itu harus bersimpuh di kaki Josephine. Ia tak mampu mengerem percintaan di padang sabana yang dilakukan sang istri bersama lelaki pujaan. Kebesaran Napoleon tandas di 'keliaran' perempuan yang lembut dan gemulai.
Persamaan hak perempuan memang mulai mengkristal. Namun budaya laki-laki yang 'ditakdirkan' sebagai penguasa belum sepenuhnya mampu diejawantah. Itu pula mengapa dalam berbagai kisah soal perempuan yang muncul selalu persoalan yang dramatis, tragis serta negatif. Perempuan selingkuh atau melacur mendapat ekstra perhatian, sedang laki-laki yang melakukan perbuatan sama dianggap sebagai kewajaran. Itu, mengapa ulah Efiel dalam kasus Muhammad Al Amin Nasution jadi lebih menonjol dibanding perkara suap itu sendiri.
Selamat Hari Kartini, jadilah perempuan yang 'liar' tapi terpuji.
Keterangan Penulis:
Djoko Su'ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com. (iy/iy)











































