"Kalau 30 tahun lalu mungkin (Lab NAMRU) masih termasuk canggih. Kalau sekarang, laboratorium Eijkmann milik kita bisa melakukan penelitian seperti mereka. Laboratorium kita nggak kalah canggih," tutur Menkes Siti Fadilah Supari.
Fadilah ditemui detikcom di kediamannya Jl Denpasar Raya 14, Kuningan, Jakarta, Selasa (22/4/2008) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awal bulan ini Menkes telah melarang RS-RS di Indonesia mengirimkan sampel penyakit kepada NAMRU karena kerjasama kedua pihak belum diperbarui.
Pada bulan ini pula Menkes AS dan Menkes RI telah bertemu di Jakarta namun keduanya tidak menemui kata sepakat pada isu-isu tertentu.
Pekan lalu, Deputi Menko Kesra Bidang Koordinasi Kependudukan, Kesehatan dan Lingkungan Hidup Emil Agustiono mengungkapkan, salah satu yang menyebabkan perundingan alot soal NAMRU adalah, pihak AS berharap peneliti NAMRU-2 diberi status diplomatik. Pihak Depkes berkeberatan dengan pemberian status diplomatik, karena mereka akan kebal dengan hukum Indonesia.
Sentinel
Lebih lanjut Menkes menyatakan, selama 30 tahun berada di Indonesia, NAMRU mempunyai sejumlah sumber penelitian (sentinel) di beberapa daerah. Sentinel itu meliputi beberapa rumah sakit (RS) dan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas).
Menurut Depkes, lanjut dia, sentinel itu antara lain di Yogyakarta,
meliputi 1 RS dan 3 puskesmas. Di Tangerang meliputi 4 puskesmas, di Kalimantan terdapat 2 sumber masing-masing di Balikpapan dan Pontianak. Di Medan, Palembang, Makasar dan Timika, Papua masing-masing 1 RS. (nwk/nrl)











































