Seperti apakah dokter Diana Abbas Thalib yang pada pertengah Mei nanti akan disunting oleh Ketua MPR Hidayat Nurwahid? Ketika dikunjungi di rumahnya, di Kemang, Jakarta Selatan, Diana dengan ramah mempersilakan detikcom masuk. Setelah para tamunya duduk, ia lalu menawarkan minuman. "Mau yang panas apa yang dingin?" tanyanya ramah.
Saat itu, selang satu hari Diana menerima pinangan dari Hidayat. Ibu satu anak ini tampak bahagia dan dengan malu-malu menuturkan kisah perkenalannya dengan sang ketua MPR. Diana mengaku dijodohkan dan baru 3 minggu mengenal bapak empat anak tersebut. Meski demikian ia mantap menjadi istri sang ketua MPR.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya memang dalam milih suami tidak sekedar suami tapi beliau harus memimpin rumah tangga," tandas Diana.
Berikut petikan wawancara Iin Yumiyanti dan Mely Febrida dari detikcom dengan dokter Diana Abbas Thalib:
Bisa diceritakan bagaimana perkenalan anda dengan Ketua MPR Hidayat Nurwahid?
Secara pribadi saya dikenalkan oleh guru ngaji saya, Ibu Yoyoh. Kebetulan (Pak Hidayat) teman baik beliau. Perkenalannya belum lama ya, kira-kira 3 minggu lalu. Kami berta'aruf itu bertemu besama beberapa teman. Mungkin 2-3 kali ketemu, pertemuan keluarga, sampai ke acara lamaran.
Jadi baru kenal 3 minggu ya?
Secara resmi baru kenal 3 minggu. Tapi siapa sih yang tidak kenal beliau? Yang tidak mengetahui kontribusinya untuk umat? Sebelum taaruf, saya sudah dapatkan data beliau. Saya baca profile beliau dengan membaca internet dan koran.
Saya sih sering dengar nama besar beliau. Namun tidak terpikir sama sekali kemudiaan akan menikah dengan beliau. Tapi (dengan pernikahan ini) saya merasa ini sebuah kesempatan untuk bisa mendukung beliau supaya tetap bisa menjalankan amanah yang diberikan.
Taarufnya seperti apa? Mungkin mirip di film Ayat-ayat Cinta?
Saat taaruf, ada keluarga dari kedua belah pihak. Juga ada Ibu Yoyoh. Kita bicara biasa saja. Tapi secara tidak kami sadari kami menggambarkan sedikit profil kami.
Kalau di Ayat-ayat Cinta itu, kan nggak ketua MPR. Jadi lebih enak. Lebih simpel. Kalau ini (taaruf dengan Hidayat yang menjabat Ketua MPR) lebih rumit. Saya sih berpikir lebih sederhana saja, mengenal beliau secara pribadi. Tidak melihat beban yang lain. Tapi mau nggak mau itu menjadi satu kesatuan, itu satu paket. Saya harus beradaptasi.
Apa yang berkesan dari Pak Hidayat?
Saat taaruf, saya berpikir akan mengenal sosok yang menjadi panutan, beliau ketua MPR. Saya bilang berkesempatan untuk berkenalan. Ekspektasi saya tidak terlalu tinggi. Itu yang membuat saya berani untuk bertemu beliau. Dengan pertemuan itu, saya surprise dengan sosok beliau yang sederhana, rendah hati, kemudian sabar. Mungkin beda dengan karater saya yang energik dan dinamis.
Saat taaruf itu yang ada dalam benak saya perasaan apa saya mampu mendampingi beliau karena ingat background dan posisi beliau. Ada keraguan di benak saya mampu nggak saya mendampinginya mengingat image dan kharisma beliau cukup tinggi. Namun beliau support dan banyak teman-teman yang membantu supaya proses adaptasinya berjalan dengan baik.
Ada yang berpendapat ini mungkin terlalu cepat karena istri Pak Hidayat baru meninggal pada Januari. Bagaimana tanggapan ibu?
Kalau di dalam agama, dikatakan orang yang belum menikah itu ibadahnya belum sempurna. Tentulah melihat betapa pahamnya beliau dengan agama. Saya pikir itu alasan utama di samping anak-anak membutuhkan. Beliau sendiri butuh dukungan istri. Jika beliau harus pergi dan anak-anak di rumah tidak ada yang mengurus itu kan menjadi beban. Akan lebih aman jika seorang suami ada istri yang menjaga dan bisa menghandle urusan rumah tangga mengingat tingginya aktivitas beliau.
Pada akhirnya, jodoh itu Allah yang menentukan. Mungkin takdir Allah kami menikah di bulan Mei. Saya sebenarnya berharap lebih lama lagi, biar taarufnya lebih jauh. Tapi kan taaruf yang sebenarnya kita tidak bisa mengenal jauh. Perkenalan itu adanya di rumah tangga, dalam perkawinan. Mungkin orang lihatnya cepat. Tapi kita bilang sih nggak terlalu cepat.
Ibu sudah memiliki anak?
Ya,saya memiliki anak, laki-laki, umur 14 tahun. Masih di SMP.
Apakah sudah memantapkan anak-anak?
Pertama kali kita bertaaruf kita memperkenalkan diri masing-masing. Walaupun kami background yang sedikit berbeda tapi kami punya tujuan hidup yang sama.
Visi hidup kami sama. Dan setelah merasa match, kami ketemu anak masing-masing. Saya ketemu dengan anak beliau, dan alhamdulillah mereka butuh figur ibu. Insyaalh saya bisa berikan itu. Anak saya butuhkan kasih sayang dan perlindungan ayah dan Pak Hidayat juga Insyaalah bisa menganggap anak saya sebagai anaknya sendiri.
Ketiga kami bertaaruf dengan ortu dan mensupport dan merestui barulah kami sampai di khitbah. Insyaalah khitbah ada hikmah. Insya Allah akan dilanjutkan dengan akad nikah pada Mei.
Sering distereotipkan ibu tiri itu kejam. Bagaimana anda akan menghadapi anak-anak Pak Hidayat?
Saya pikir itu (ibu tiri kejam) merupakan paradigma lama. Itu kembali pada individu masing-masing. Ada yang suka dengan anak-anak. Ada yang tidak suka. Insya Allah, saya yang termasuk suka anak-anak. Insya Allah mereka bisa merasakan saya punya banyak kasih.
Bagaimana nantinya akan membesarkan anak-anak?
Kita belum terlalu bicara ke sana. Tapi kita punya visi yang sama. Kita ingin mengantarkan anak kita menjadi anak yang soleh dan membuat mereka bisa menjadi orang-orang yang bisa berbuat sesuatu yang berarti buat umat.
Bisa diceritakan pekerjaan Ibu Diana?
Saya dokter. Ayah saya seorang dokter, waktu saya kecil saya sering membantu ayah. Saat tamat SMA disarankan ke kedokteran. Jadi nggak terlalu sulitlah.
Lulus kuliah, saya jadi dokter umum. Kemudian saya ambil manajeman. Dan sekarang saya jadi CEO di RS Ibu dan Anak di Pondok Bambu.
Selain sebagai dokter, Ibu Diana aktif dimana?
Saya ini punya beberapa unit usaha yang membuat saya tidak banyak waktu. Saya pengurus yayasan yang menyelenggarakan operasi katarak gratis.
Kalau sudah menikah, bagaimana dengan pekerjaan Ibu?
Saya pikir Allah memberikan saya ilmu yang saya punya. Kesempatan yang saya dapatkan akan saya maksimalkan tanpa mengabaikan posisi sebagai ibu rumah tangga. Insya Allah dengan seizin beliau (Hidayat) saya akan tetap bekerja.
Apa hobi Ibu Diana?
Hobi saya sudah banyak berubah dari perjalanan hidup saya. Saya hobi membaca, nonton, shoping. Tapi perjalanan waktu mengantarkan saya jarang menonton karena sedikit waktu. Membaca kalau dulu bisa membaca novel, mungkin sekarang baca cepat sifatnya tahu isinya. Saya suka novel seperti Sidney Sheldom, Agatha Christie, dll. Pada zaman SMA saya suka Barbara Cartland.
Hubungan ideal suami dan istri menurut Ibu seperti apa?
Menurut saya, sekalipun wanita karir, saya menganut suami adalah pemimpin. Tapi segala sesuatu keputusan kita dilibatkan. Saya menjujung tinggi suami, sebagaimana disebutkan di Al Quran, suami adalah pemimpin. Istri adalah wakil dari suami.
Suami dan istri sama-sama punya fungsi dan kontrol untuk mengingatkan. Kalau suami sudah benar, istri mendukung. Tapi kalau tidak benar, istri mengingatkan, menjaga suaminya supaya jangan sampai keluarga terkena imbas. Begitu juga sebaliknya suami terhadap istri.
Saya memang dalam milih suami tidak sekedar suami tapi beliau harus memimpin rumah tangga. Itu salah satu kenapa saya memilih beliau agar menjadi imam dan memberikan contoh yang baik.
Perempuan sukses menurut Ibu Diana seperti apa?
Saya kalau di Indonesia ini dari wanita secara umum, saya kagum kepada guru saya (Yoyoh Yusroh, anggota DPR dari PKS), beliau itu memiliki 13 anak dan aktif berdakwah. Belia menjaga betul amanah yang diberikan. Dia sukses dalam rumah tangga juga sukses di karir. Kan banyak orang sukses di aktivitas luar, tapi tidak sukses di rumah tangganya.
Saya kagum sekali dengan beliau. Saya merasa kecil kalau ada di sebelah beliau. Dalam benak saya, perempuan sukses itu ya yang seperti itu. Sukses di rumah tangga dan memiliki kontribusi besar di luar. Di rumah tangga dan karir di luar sama suksesnya.
Boleh tahu pendapat anda soal poligami?
Itu ajaran yang diizinkan. Namun ada syaratnya kalau punya kemampuan, tidak hanya finansial dan fisik. Kalau yang bersangkutan mampu bersikap adil dan Allah mengizinkan ya terjadilah poligami. Sifat Polgami menjadi tidak benar karena yang melaksanakan tidak punya kemampuan.
Kalau anda pribadi menolak atau mendukung poligami?
Sebagai orang muslim saya menghormati ajaran itu. Poligami butuh syarat mampu dan kesiapan. Saya tidak memusingkan poligami karena saya percaya, kalau Allah takdirkan suami saya poligami mungkin saya tidak akan menentang. Namun setahu saya beliau menganut monogamy. (Poligami)Β Itu seperti takdir, maut dan jodoh. Takdir maut, rizki dan jodoh itu kan Allah yang menentukan. Namun kalau salah satu tidak mampu, poligami itu tidak bisa dipaksakan.
Melihat posisi Pak Hidayat sebagai Ketua MPR, bagaimana Ibu Diana nanti akan bersikap bila sudah menjadi istrinya?
Saya pikir kalau kita tahu betul tentu sadar bahwa saya tidak bisa menjadi istri biasa-biasa saja untuk suami seperti beliau. Saya harus menjadi istri lebih dari biasa, baik di samping mengurus anak-anaknya. Kemudian kegiatan di kenegaraan dengan banyak aktivitas. Saya harus menjadi istri lebih dari biasa.
Pak Hidayat termasuk salah satu tokoh yang disebut-sebut untuk menjadi capres 2009. Bagaimana ibu menghadapi hal ini?
Saya berpikir untuk taaruf semata-mata ingin membentuk keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah, itu yang utama. Saya tidak berpikir yang terlalu jauh. Namun saya tidak bisa memungkiri karena kondisi yang dijalani beliau. Apapun perjalanan hidup suami saya, baik suka maupun duka akan saya dampingi. Saya akan support apa pun bentuknya. (iy/nrl)











































