Demikian dikatakan Dhuroruddin Mashad, pengamat politik Timur Tengah dari LIPI, saat dihubungi detikcom, Selasa (22/4/2008).
Namun, kata Dhuroruddin, bagi Amerika Serikat (AS) yang mempunyai perspektif berbeda dengan Indonesia, TV Al Manar bisa disebut merugikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengaku belum melihat tayangan TV Al Manar. "Saya sudah tahu informasi ini, walaupun belum pernah nonton," tambahnya.
Dhuroruddin meyakini tayangan TV Al Manar tidak akan mengubah kebijakan politik luar negeri Indonesia menyangkut konflik di Timur Tengah. "Kita punya pijakan sendiri dalam politik luar negeri yang bebas aktif," jelasnya.
Namun kehadiran Al Manar ini, memberikan gambaran yang berbeda terhadap peristiwa yang terjadi di Timur Tengah khususnya di Palestina. "Sebuah media akan memiliki interpretasi yang berbeda terhadap suatu fakta dengan media lainnya. Interpretasi itu dipengaruhi latar belakang serta visi media itu. Mungkin itulah yang akan digambarkan Al Manar," katanya.
(mar/nrl)











































