Tak seperti biasanya, usai beres-beres, dia menuju ke salon dekat rumah. Dengan jurus serba cepat si tukang salon, dalam waktu setengah jam penampilan Indah telah berubah. Dengan pakaian adat Padang, Indah siap bekerja mengemudikan bus TransJakarta.
"Menghormati Hari Kartini. Sekali setahun nggak apa lah," kata Indah yang sedang mengemudi bus TransJakarta Koridor I (Blok M - Kota), Senin (21/4/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau tahun lalu enak, bajunya dipinjemin. Sekarag modal sendiri," cetus Indah.
Tak berbeda dengan Indah, Weni (31) pun pada Senin ini mengemudikan bus TransJakarta dengan pakaian adat nasional. Hari Kartini tahun ini, dia menjadi perempuan Sunda yang kalem. Bajunya pun dipilih model gadis priangan.
"Biar terasa muda lagi," celotehnya saat mengemudikan bus TransJakarta di koridor serupa.
Menurut Weni, meski Hari Kartini lebih sebatas seremoni, ia melihat peringatan hari tersebut menunjukan, ada yang ingat dengan perjuangan RA Kartini. Bagi Weni pribadi, dia tidak terlalu memikirkan untuk apa Kartini memperjuangkan emansipasi perempuan.
"Sudah ada yang mikirin mas. Kalau emansipasi-emansipasi, cuma ngomong doang. Dari saya dulu SMA, pada ngomong gitu tapi sama saja. Yang penting antara lelaki dan perempuan saling menghormati saja, sudah cukup," papar Weni sambil tetap waspada.
Perempuan-perempun bus TransJakarta itu pun kembali meluncur. Melakukan rutinitasnya, tentu dengan beban sosial dan tugas perempuan yang terus melaju. (Ari/nvt)











































