Pantauan detikcom, Minggu (20/4/2008) pukul 21.00 WIB, gerbang kantor dengan halaman luas itu ditutup.
Seorang anggota Garda Bangsa terlihat berjaga di musala yang terletak di gerbang kantor itu. Anggota Garda Bangsa yang ternyata bernama Pali itu menghampiri detikcom dan membuka sedikit gerbang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita memang disuruh berjaga-jaga, takut ada orang yang menduduki tempat ini," kata Pali.
Pali mengaku, telah dua hari menjaga kantor itu. Biasanya ia bersama beberapa temannya bermalam di kantor yang terletak di belakang taman makam pahlawan (TMP) Kalibata tersebut.
"Biasanya bareng teman. Kemarin berlima, kalau sekarang sekitar sepuluh orang," ujar dia.
Tidak jauh dari musala itu tampak tujuh orang pemuda berkumpul, mereka tampak asik bermain tenis meja sedangkan yang lainnya duduk-duduk di teras kantor itu.
"Kita juga mengamankan DPP kalau ada demo seperti beberapa waktu lalu," kata Pali.
Sedangkan di dalam kantor DPP tampak sepi, detikcom menemui Ali Makki, seorang petugas keamanan yang telah bertahun-tahun menjaga kantor itu.
"Tidak ada instruksi peningkatan keamanan dari DPP, ini hanya inisiatif teman-teman Garda Bangsa saja," tuturnya.
Pria paruh baya ini juga mengungkapkan pintu gerbang kantor yang ditutup disebabkan karena ini adalah hari libur, dan bukan untuk meningkatkan pengamanan.
"Ini kan hari minggu, jadi pintu gerbang memang ditutup," ungkapnya
Pada 5 April 2008 malam lalu, kantor ini memang sempat menjadi sasaran 100 demonstran. Mereka meminta agar pimpinan PKB menghormati hasil muktamar PKB Semarang yang mengukuhkan Gus Dur atau Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum Dewan Syuro dan keponakannya, Muhaimin Iskandar, sebagai Ketua Umum Dewan Tanfidz.Β Β (nal/nwk)











































