Penerima penghargaan Nobel ini ditembak di kediamannya di Dili oleh pemberontak pada 11 Februari 2008 lalu. Pada saat itu Presiden Xanana Gusmao juga menjadi target, namun lolos dari serangan.
Horta kembali ke Dili pada Kamis pekan ini setelah menjalani perawatan medis selama 2 bulan di Australia. Dan di akhir pekan, Horta dikabarkan menyebut elemen-elemen di Australia dan Indonesia ikut berperan dalam aksi penyerangan terhadap dirinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini penggambaran yang salah dari media. Saya selalu mengatakan individu-individu di Indonesia. Individu bisa jadi dari warga Timor Leste atau mereka yang ingin menjadi warga negara Indonesia," kata Ramos Horta seperti dilansir AFP, Minggu (20/4/2008).
Seperti diketahui puluhan dari ribuan warga Timor Leste melarikan diri ke Indonesia selama kerusuhan pada 1999 untuk kemerdekaan. Banyak di antara mereka memilih tetap di Indonesia. (mly/asy)











































