Wacana duet capres-cawapres semakin marak akhir-akhir ini. Sejumlah tokoh dari partai politik raksasa paling sering diwacanakan. Terakhir, muncul wacana menduetkan Jusuf Kalla (JK)-Hidayat Nurwahid, Hidayat Nurwahid-Meuthia Hatta, Megawati-Meuthia, Sri Sultann HB X-Hidayat, dan lain-lain.
Seringnya Agung Laksono turun ke bawah, bertemu massa dan melakukan kunjungan-kunjungan menarik yang diliput media massa memunculkan wacana Ketua DPR itu mengincar kursi presiden atau wapres. Wacana Mega-Agung sempat muncul beberapa waktu lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, PDIP sudah memastikan untuk mengusung Megawati, putri Bung Karno, untuk menjadi calon presiden. Jadi, bila koalisi dua parpol ini terjadi, maka tak mungkin calon dari Golkar yang menjadi presiden. Salah satu tokoh Golkar yang dinilai pas menjadi cawapres adalah Agung Laksono. Mengusung JK sebagai cawapres mendampingi Mega, dinilai terlalu 'ketinggian'.
Karena itu, kunjungan Agung Laksono ke makam Bung Karno pada Sabtu (19/4/2008) kemarin memperlihatkan bahwa koalisi dua parpol ini semakin dekat. Itu artinya duet Mega-Agung bisa jadi salah satu pilihan.
Penolakan Agung terkait rencana penjualan rumah Bung Karno di Blitar oleh ahli warisnya semakin kuat mengindikasikan Agung mendekati PDIP. Benarkah Agung menyeriusi wacana duet Mega-Agung? (asy/djo)











































