Wong Miskin Kecewa & Pilkada

Kolom

Wong Miskin Kecewa & Pilkada

- detikNews
Jumat, 18 Apr 2008 11:13 WIB
Wong Miskin Kecewa & Pilkada
Jakarta - Wong miskin di Indonesia kembali kecewa. Inilah yang menjadi faktor kenapa partai Golkar dan PDI Perjuangan tumbang dalam sejumlah pemilihan kepala daerah. Sementara kedua partai politik itu tidak melahirkan aktor sosial, kecuali citra negatif yang dimainkan para aktornya.

Asumsi ini mungkin perlu dibuktikan melalui sebuah penelitian, tapi ada beberapa alasan kuat dari kesimpulan tersebut. Partai Golkar sangat dimengerti masyarakat Indonesia sebagai partai penguasa selama Soeharto berkuasa. Partai ini memiliki pendukungnya, lantaran banyak kekuatan yang diuntungkan, terutama di kelompok kelas menengah. Kelompok yang kecewa, tentu saja yang termarginalkan selama Soeharto berkuasa yakni kaum miskin kota, petani miskin, buruh, serta kelompok politik yang tersingkirkan.

Setelah Soeharto tumbang, masyarakat yang bukan "Golkar" menyatu dengan kekuatan PDI Perjuangan bersama mitos Soekarno-nya. Kelompok masyarakat ini didukung kelompok yang merasa “dipaksa” menjadi pendukung Golkar, seperti pegawai negeri berpangkat rendah atau para guru dan dosen yang memiliki pencerahan, plus generasi muda yang mencari identitas politiknya. Pemilu 1999 merupakan bukti kejayaan PDI Perjuangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terlepas kemajuan atau perbaikan yang telah dilakukan para politisi PDI Perjuangan terhadap kondisi Indonesia, masyarakat miskin Indonesia mengalami kekecewaan. Mereka yang menginginkan perubahan total, mendapatkan realitas perubahan yang tidak utuh. Bahkan, perilaku aktor politik dari PDI Perjuangan, seperti para anggota dewan, menyebabkan masyarakat miskin beromantis dengan Soeharto dan Golkar. Pemilu 2004, mereka menggantungkan harapan pada SBY dan Partai Golkar.

Kini, masyarakat miskin kembali kecewa. Bahkan, kekuatan masyarakat miskin yang kecewa ini bukan berkurang, tapi terus bertambah sejalan dengan kondisi yang tidak mengalami perbaikan. Sayangnya, tidak semua masyarakat miskin kemudian beromantis dengan PDI Perjuangan. Sebab perilaku politisi dari PDI Perjuangan tidak mengalami perbaikan.

Anehnya, peluang mencari simpatis masyarakat miskin justru diterjemahkan PDI Perjuangan dan Partai Golkar lewat kegiatan politik dan melahirkan aktor-aktor politik baru, bukan lewat gerakan sosial atau melahirkan aktor sosial. Ironinya, Ketua Umum Partai Golkar yang juga Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla, berada di depan dalam menjalankan program penggantian minyak tanah dengan gas, yang akhirnya menimbulkan berbagai persoalan di masyarakat miskin.

Selama kondisi ini menjadi sorotan masyarakat miskin, PKS tumbuh dan membangun karakternya sebagai kekuatan sosial. Mereka tidak banyak melahirkan opini, berdebat, berwacana, tapi mereka justru melakukan tindakan yang peduli rakyat. Pimpinan dan kader PKS, aktif dalam berbagai kegiatan sosial, seperti membantu korban bencana, atau menolong masyarakat yang mengalami persoalan kesehatan dan pendidikan.

Kerja sosial yang dimainkan PKS ini terbukti cukup kuat buat mengalahkan PDI Perjuangan dan Partai Golkar dalam sejumlah suksesi kepala daerah, seperti dalam pilkada Jawa Barat dan Sumatra Utara.

Nah, bila PDI Perjuangan dan Partai Golkar tetap membangun karakternya seperti saat ini, saya pikir Pemilu 2009 akan menjadi milik PKS.

PKS tumbuh sebagai kelompok yang dipercaya, siapa pun aktor politik yang mereka majukan, asal track recordnya terjaga dan sedikit populis, pasti akan merasakan kemenangan. Seperti keyakinan saya, Dede Yusuf akan tetap menang meskipun PDI Perjuangan atau Partai Golkar mengusung Iwan Fals dalam Pilkada Jawa Barat.

Keterangan penulis:
Taufik Wijaya adalah wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja.
(tw/iy)


Berita Terkait