Kader Golkar Ibarat Telor Ayam Numpang Netas dengan Bebek

Pilkada Sumut

Kader Golkar Ibarat Telor Ayam Numpang Netas dengan Bebek

- detikNews
Kamis, 17 Apr 2008 14:49 WIB
Palembang - Kekalahan Partai Golkar di Sumatera Utara bukan merupakan kekalahan kader Golkar. Sebab hampir semua kepala daerah yang menang sebenarnya kader Golkar, tapi numpang dengan partai politik lain.

"Istilahnya itu telor ayam numpang netes dengan bebek, angsa. Kalau sudah netes, ya, tetap anam ayam. Bukan anak bebek atau angsa," kata Muhammad Yansuri, ketua DPD Partai Golkar Palembang, kepada detikcom, melalui telepon, Kamis (17/04/2008) siang.

"Arifin (Syamsul Arifin) itu kawan aku. Dia itu kader Golkar. Dia sama-sama dengan aku di FKPPI," kata Yansuri yang kini sebagai calon Walikota Palembang periode 2008-2013.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yansuri tidak sepakat kalau mesin Partai Golkar tidak bergerak, tapi yang terjadi mesin Golkar bergerak tapi terpecah. "Ya, itu masing-masing kader Golkar ingin maju. Jadinya, ada yang ke sana, ada yang ke sini. Mungkin lebih tepatnya, Golkar saat ini perlu soliditas kekuatan," katanya.

Bahkan, kata Yansuri, tiga dari empat calon Walikota Palembang merupakan kader Golkar, termasuk dirinya. Misalnya Eddy Santana Putra, yang kini menjadi Ketua DPD PDI Perjuangan, sebelumnya adalah kader Golkar atau dibesarkan dan dididik kemampuan politiknya oleh Golkar. Begitu juga Sarimuda yang kini diusung PKS. "Mungkin Asmawati yang murni kader PD," katanya.

Jadi, jelas Yansuri, kalau kekalahan calon Golkar di Sumatera Utara atau Jawa Barat itu dapat dijadikan indikator kekuatan Partai Golkar pada Pemilu 2009, sangatlah salah.

"Saya percaya, Arifin tetap sayang dengan Golkar. Pilkada ini kan berebut kursi jadi raja, tapi pemilu nanti para raja akan berjuang buat organisasi yang membesarkannya," imbuhnya. (tw/djo)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads