"Golkar jelas tengah bertarung dengan PDIP (di Pilkada Jabar maupun Sumut). Dan PKS yang mendapat keuntungannya," ujar pengamat politik Indra J Pilliang dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (17/4/2008).
Indra mengatakan Golkar bertarung dengan PDIP di dua wilayah itu lantaran kedua partai tersebut mendapat perolehan suara terbesar saat pemilu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi, lanjutnya, dalam Pilkada Sumut, Syamsul Arifin yang diusung PKS mulanya adalah kader Golkar.
Untuk pilkada, menurut Indra, pengenalan calon kepada masyarakat bisa dilakukan dalam waktu 6 bulan hingga setahun. Sedangkan untuk tingkat wilayah Indonesia dalam pilpres, maka dibutuhkan waktu yang lebih lama dari setahun.
"Karena itu belum bisa disamakan pilkada dengan pilpres," cetus Indra.
Bagaimana dengan efektivitas mesin politik? "Dari PKS cukup bekerja keras. PDIP juga bagus. Dua partai ini menurut saya termasuk dalam working party. Sedangkan Golkar cenderung partai organisasi," jelasnya.
Ahmad Heryawan - Yusuf Macan Effendi yang diusung PKS dan PAN unggul di Pilkada Jabar. Mereka sementara menundukkan Agum Gumelar - Nu'man Abdul Hakim yang menjadi jagoan PDIP, PPP, PBB, PKPB, PKB, PDS serta pasangan Danny Setiawan - Iwan Ridwan Sulanjana yang didukung Partai Golkar dan Demokrat.
Sedangkan di Pilkada Sumut, Syamsul Arifin - Gatot Pujonugroho yang didukung PKS, PPP, dan PBB juga unggul sementara atas Ali Umri - Maratua Simanjuntak yang diusung Partai Golkar serta Tritamtomo - Benny Pasaribu yang didukung PDIP. (nvt/nrl)











































