"Sebenarnya kekalahan itu bukan karena adanya dikotomi sipil - militer. Orang-orang yang aktif di militer umumnya tingkat pengenalan di masyarakat kurang," ujar Direktur Eksekutif Indobarometer M Qodari dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (17/4/2008).
Calon yang berlatar belakang militer cenderung kalah populer dari incumbent yang rajin turun ke daerah. Meskipun calon yang bersangkutan adalah asli putra daerah namun biasanya para prajurit bertugas di luar daerahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam Pilkada Sumut, PDIP mencalonkan sosok Tritamtomo lantaran catatan partai berlambang banteng moncong putih itu menunjukkan, dalam 20 tahun terakhir Sumut dipimpin oleh gubernur berlatar belakang militer. Terakhir adalah Mayjen Purn Tengku Rizal Nurdin yang meninggal dunia dalam musibah jatuhnya pesawat Mandala Airlines beberapa tahun yang lalu.
PDIP juga beranggapan, Sumut masih butuh figur militer karena Sumut adalah salah satu barometer politik nasional. Namun pasangan Tritamtomo - Benny Pasaribu malah tidak cukup mendapat banyak suara. Mereka kalah oleh figur sipil Arifin - Gatot yang diusung PKS, PPP, dan PBB.
Pun dengan Agum Gumelar yang maju di Pilkada Jabar. Pria berpangkat terakhir jenderal itu pun tersingkir.
Prajurit yang juga tak laku di daerah adalah Kolonel Inf DJ Nachrowi yang merupakan pejabat di Pusat Penerangan TNI. Dia maju menjadi calon wakil bupati Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Namun langkahnya dikandaskan tokoh sipil yaitu pasangan Marwadi Yahya-Iskandar.
Sedangkan di Serang, Banten, seorang perwira di Bais TNI Letkol Cpt Didi Sunardi yang maju menjadi bupati juga dipupuskan harapannya oleh pasangan sipil Taufik Nuriman - Andi Sujadi yang diusung PKS dan Partai Demokrat. (nvt/nrl)











































