"Populer itu tidak menjamin. Kelihatannya yang penting merakyat dan mau bergaul dengan rakyat," kata pengamat politik UI Maswadi Rauf kepada detikcom, Kamis (17/4/2008).
Menurut Maswadi, rakyat saat ini tidak peduli dengan pengalaman sang calon. Selain itu partai yang mengusung hanya sebagai alat untuk mengajukan calon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun pemilihan dengan hanya berdasarkan figur juga memiliki kelemahan. Rakyat terkadang akan memilih calon yang tidak berpengalaman dan mempunyai kapabilitas.
"Seharusnya kriteria yang menentukan itu kinerjanya. Kalau rakyat memilih berdasarkan kinerja akan dihasilkan pimpinan yang berkualitas," ujar Maswadi.
Namun penilaian rakyat terhadap calon incumbent berbeda dengan calon yang baru. Contohnya saja Presiden SBY dan JK. Jika mereka ingin maju lagi, maka rakyat akan melihat kinerja mereka.
"Kalau incumbent itu dinilai dari kinerjanya. Jadi SBY-JK harus hati-hati. Tapi untuk calon baru tidak perlu," kata dia.
Lalu jika partai memenangi Pilkada apa bisa disebut sebagai modal Pemilu 2009? "Belum tentu. Kemenangan itu bukan karena partai tapi figur dan kedekatan calon dengan rakyat," jawab dia. (mly/nrl)










































