"Itu reaksi dari usaha Muhaimin yang terus memperbanyak kawan, termasuk dengan JK dan SBY. Satu-satunya cara, Abdurrahman Wahid menuding seperti itu untuk membangun soliditas internal dan memperluas musuh eksternal," kata pengamat politik Fachry Ali pada detikcom usai peluncuran buku Sukardi Rinakit di hotel Four Season, Kuningan, Jakarta, Rabu (16/4/2008)
Menurut mantan aktivis HMI ini, politik Gus Dur berdasar pada patron-klien. Sistem politik seperti ini mengharuskan orang-orang yang ikut Gus Dur patuh dan taat apapun yang dikehendaki Gus Dur.
"Politik Abdurrahman itu politik bos dan anak buah, patron-klien. kalau ikut dia, ya harus tidak boleh lepas dan independen dari dia," kata Fachry.
Sementara Muhaimin sebagai Ketua Umum ingin menunjukkan eksistensinya, agar terkesan sebagai seorang yang kuat.
"Perlawanan muhaimin ini karena ingin menunjukkan keberanian dan kejantanannya sebagai seorang pemimpin. Kalau dia diam kan tidak ada jaminan dia akan aman, jadi sekalian aja," pungkas Fachry. (yid/aba)











































