Pasangan terakhir itu kalkulasi secara politik memenuhi syarat diidolakan. Komposisinya sangat ideal. Selain incumbent, sipil-militer, serta diusung partai layak jual, yaitu Golkar. Namun ternyata idealisasi itu berbelok arah. Pasangan ini justru menempati urutan buncit.
Memang ada beberapa faktor mengapa sang incumbent bernasib tragis. Pertama mungkin karena popularitas Dede Yusuf , kedua karena pasangan ini termuda, ketiga partai pengusungnya "lebih bersih", dan yang tak kalah penting juga, karena Danny diusung Partai Golkar. Kenapa dengan Golkar?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi sejak dipegang Jusuf Kalla (JK), partai ini terus terpuruk. Tiap Pilkada jago Golkar selalu keok. Terbentang dari Ternate sampai Sulawesi, dari Batu-Malang hingga Kalimantan, dan sekarang disusul dengan kekalahan telak di Jawa Barat. Ada asumsi segera menyusul kekalahan sama di Pilkada Jawa Timur dan Sumatera Utara. Apa yang salah pada Beringin?
Dalam catatan HA van Hien, pohon beringin merupakan flora sakral. Pohon ini ada di setiap desa di Pulau Jawa. Tumbuh subur sebagai simbolisasi pengayom. Mengayomi desa dari sengatan terik matahari. Mengayomi batin warga dari rasa ragu dan tidak berharapan dalam hidup.
Pohon ini mempunyai energi ekstra. Sinergitas kultus limpahan pengharapan. Di pohon ini tinggal permanen para danyang yang mbaurekso desa. Ekspresi apresiasi metafisis bagi cikalbakal desa. Orang yang berjasa mbubak desa (membangun desa) yang sudah hidup di alam kelanggengan.
Pohon beringin dianggap wingit. Angker. Namun keangkeran beringin bukan tidak dijamah. Malah sebaliknya, pohon beringin banyak didatangi. Itu karena kepercayaan warga desa, bahwa di pohon inilah arwah pepunden tinggal. Arwah orang berjasa dan dituakan di desa itu yang tetap hidup langgeng menjaga desa dan penduduknya dari segala marabahaya.
Untuk itu, di antara rimbun tanaman yang tunasnya menjuntai itu akan selalu ditemukan berbagai sesembahan. Ada makanan dengan lauk panggang ayam. Juga cerutu, bunga lima macam, candu, dan tak lupa dupa serta kemenyan. Yang tak ketinggalan adalah amplop bagi sang juru kunci, mediator menuju alam roh.
Lambat-laun kepercayaan itu meredup. Pendidikan mengkritisi dogma dan kepercayaan. Kompetisi kehidupan memberi imbas larutnya naluri metafisis. Dan supranatural yang dipolitisasi jadi profan, mencurigai alam gaib sebagai sebuah rekayasa bodoh.
Akhirnya, proses waktu pohon beringin tidak lagi sakral. Tidak ada yang memberi uborampe (sesembahan). Tidak perlu ada kemenyan. Tidak usah disuguhi kembang-kembang. Dan akibat itu, roh sang mbaurekso malas tinggal. Apalagi sudah ada yang berani membonsai pohon yang dikultuskan ini.
Terus apa hubungan mitos beringin dan Golkar serta kekalahan Danny Setiawan dalam Pilgub Jawa Barat? Jawabnya simple, di partai ini sudah tidak ada sang mbaurekso. Dengan begitu tidak ada lagi harapan yang bisa diharap, dan tidak ada lagi "kultus" yang bisa menentramkan batin.
Jika dulu sang mbaurekso Soeharto memback-up Golkar sampai melibatkan tentara segala. Akbar Tanjung all-out mengerahkan kader HMI untuk menghijaukan kuningnya Golkar agar tidak dibubarkan. JK belum melakukan apa-apa.
Tidak terlibat kesejarahan. Dan tidak menggalang konstituen yang pro Soeharto dan pro Akbar, atau yang kontra Soeharto maupun kontra Akbar.
JK mengakuisisi Golkar. Dia jalan dengan gerbong sendiri. Membentuk gerbong baru, orang baru, yang justru melahirkan barisan sakit hati. Partai ini gembos secara frontal. Digembosi kader yang dulu ikut melahirkan dan menyemaikan. Celakanya partai ini juga lemah motivasi untuk merekrut anggota baru.
Kini, setelah "perang" dalam Pilkada selalu kalah, mulai muncul wacana negatif. Kalau dulu datang ke Beringin dijamin sukses, kini pameo itu terbalik. Ingin gagal, pakailah kendaraan Golkar. Cespleng dijamin ke laut !
Keterangan Penulis:
Djoko Su'ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com. (iy/iy)











































