Ngruki: Abdurrachim Dikeluarkan karena Makar

Ngruki: Abdurrachim Dikeluarkan karena Makar

- detikNews
Selasa, 15 Apr 2008 15:19 WIB
Solo - Abdurrachim Thayib alias Abu Husna saat ini ditahan Polri. Para guru senior di Pesantren Ngruki mengenangnya sebagai pribadi santun dan lembut namun keras dalam memegang prinsip. Abdurrachim adalah mantan guru senior di pesantren tersebut, namun dia dikeluarkan karena dianggap melakukan makar.

Abdurrachim bersama dokter Agus Purwantoro ditangkap Polisi Diraja Malaysia akhir Maret lalu. Mereka kemudian dideportasi dan saat ini berada dalam tahanan Polri untuk dimintai keterangan terkait sejumlah tindak kekerasan yang terjadi di Tanah Air selama ini.

Mantan Direktur Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Ustadz Farid Ma'ruf, mengatakan bekas muridnya itu adalah santri angkatan keempat. Setelah lulus pada tahun 1980, dia diterima sebagai ustadz di pesantren tersebut karena dia dinilai memiliki kecerdasan dan kemampuan yang mumpuni.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dia cerdas, berakhlak bagus lembut dan bukan termasuk pribadi yang meledak-ledak. Namun dia adalah orang yang sangat keras dalam memegang prinsip apalagi jika menyangkut soal akidah," ujar Farid saat ditemui di kompleks Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Selasa (15/4/2008).

Karena kecerdasan dan kemampuannya, Abdurrachim pernah dipercaya sebagai kepala kesantrian dan terakhir menjabat sebagai Kepala Kulliyatul Muallimin (KMI). Hingga dia dikeluarkan pada tahun 1995, jabatan Kepala KMI itu masih dipegangnya.

Kenapa dia dikeluarkan? Farid dengan tegas mengatakan karena Abdurrachim melakukan makar. Abdurrachim menolak berdirinya madrasah mutawassithah atau sekolah unggulan yang didirikan Al-Mukmin. Alasannya unit sekolah itu bisa mematikan KMI. Namun pimpinan Al-Mukmin tetap menjalankan keputusan itu.

"Rachim ternyata tidak hanya berhenti pada penolakan, dia juga menggalang massa untuk menghentikan proses belajar mengajar. Usahanya berhasil. Saat itu aktivitas pondok berhenti total. Lalu sebagai direktur saat itu, saya memutuskan untuk meliburkan semua kegiatan selama setengah bulan," papar Farid.

Selaku pimpinan pesantren, Farid lalu mengumumkan jika pada hari yang ditentukan pada ustadz dan santri tidak kembali ke pesantren maka dianggap keluar. Ternyata 40 ustadz dan tidak kurang dari 700 santri memilih keluar bersama Abdurrachim. Eksodus besar-besaran terjadi.

"40 ustadz itu sebagian ada yang ustadz senior, selebihnya adalah ustadz muda tak ada yang tersisa ikut keluar semuanya. Karena Rachim dan kawan-kawannya ini melakukan makar maka kami memutuskan untuk mengeluarkannya," lanjut Farid Ma'ruf yang saat ini menjabat sebagai pembina Yayasan Pendidikan Islam Al-Mukmin. (mbr/djo)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads