"Teh atau kopi ?" pertanyaan berikut yang diajukan oleh waitress dengan label nama Ahmad di dada kirinya.
Sapaan-sapaan ramah dengan bahasa Indonesia pun berlanjut ketika detikcom memilih berbagai menu yang ditata dengan ala buffet. Laki-laki muda berpakaian chef bernama Didi pun menawarkan menu nasi goreng Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ahmad dan Didi hanyalah sebagian dari 50 orang Indonesia yang bekerja di The Fairmont Hotel Dubai, dan bagian kecil dari sekitar 150 ribu orang Indonesia yang bekerja di seluruh Dubai.
Konsulat Jenderal RI di Dubai mencatat ada 72 ribu orang Indonesia yang bekerja di Dubai. Tapi Rizal, pekerja Indonesia yang sudah enam tahun bekerja di Dubai, kepada detikcom yang menemuinya di The Fairmont Accomodation, mengatakan bahwa angka itu hanya separuh dari jumlah sebetulnya. "Banyak yang tidak mendaftarkan diri ke Konjen," kata dia.
Uni Arab Emirates (UAE) berluas kira-kira seluas Maluku atau kurang dari 4% wilayah Indonesia dengan bentuk negara federasi dengan 7 Emirat yaitu Abu Dhabi, Dubai, Sharjah, Ajman, Fujairah, Ras al Khaimah, Umm Al Quwain. UAE adalah satu di antara negara terkaya di Timur Tengah dengan pendapatan perkapita sekitar US$ 36.000 dan penduduk sekitar 4,5 juta jiwa pada tahun 2007.
Menurut data dari Kementerian Ekonomi bahwa UAE GDP tahun 2007 mencapai US$ 191 miliar dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 7,4 %. Peran non migas dalam GDP mencapai 65% dengan rincian industri manufaktur 13%, konstruksi dan bangunan 8%, perdagangan 11%, komunikasi dan transportasi 6%, real estate 8%, pelayanan pemerintah 7%, lain-lain 12%.
Peranan migas turun dari 37,3% pada tahun 2006 menjadi 35% pada tahun 2007. UAE sebagai negara eksportir minyak terbesar kelima di dunia telah berhasil melakukan diversifikasi dalam menunjang pertumbuhan ekonominya dari ketergantungan terhadap minyak ke sektor non migas, seperti real estate, bisnis keuangan dan infrastruktur.
Berkaitan dengan pertumbuhan yang pesat di Dubai dan sekitarnya itulah, kebutuhan akan tenaga kerja asing demikian besar. Berbondong-bondong para pekerja dari Indonesia, Pakistan, Bangladesh, India, Malaysia, Filipina dan negara-negara lain di kawasan Asia dan sedikit dari barat, mengadu nasib di Dubai. Pembangunan infrastruktur dan sektor pariwisata yang sedang digenjot oleh pemerintah UAE menyedot tenaga kerja paling banyak. Hotel-hotel jaringan internasional bermunculan di Dubai dengan tingkat hunian rata-rata hampir 90 persen, terutama pada saat peak season, yaitu saat musim dingin.
Di tengah persaingan yang ketat antara para pekerja asing yang datang dari berbagai negara itu, pekerja Indonesia bisa dibilang cukup eksis di Dubai. Bahkan sebagian besar pekerja Indonesia sudah menduduki posisi tingkat menengah dengan prestasi kerja yang baik. "Enam tahun lalu posisi seperti saya ini masih dipegang oleh pekerja asing dari Barat," kata Chandra Yogasswara, Sous Chef di The Fairmont Hotel. Beberapa posisi manajer di hotel ini pun diduduki oleh orang Indonesia.
Seiring dengan naiknya orang-orang Indonesia di posisi manajer, maka 'warna' Indonesia pun ikut terangkat. Seperti terlihat pada nuansa Restaurant Cascade di The Fairmont Hotel, tempat para tamu hotel sarapan, terdapat menu Nasi Goreng Indonesia berada di jajaran menu internasional lainnya. Begitu juga dengan menu untuk room service, menu Nasi Goreng Indonesia terdapat dalam daftar menu yang bisa dipesan.
Menurut Didi, salah satu chef di Cascade yang juga orang Indonesia, masuknya Nasi Goreng Indonesia di daftar menu itu belum berlangsung lama. "Siapa yang menjadi Kitchen Manager itu akan sangat menentukan menu restoran. Karena sekarang dipegang oleh orang Indonesia - Sous Chef Chandra -, maka menu Indonesia masuk dalam daftar. Itu pun karena memang pihak hotel ingin mengangkat lebih banyak menu Asia," jelas Didi yang hampir 2 tahun ini bekerja di Dubai. (asy/asy)











































