ADVERTISEMENT

SLANK VS DPR (2)

Kritis Tapi Ujung-Ujungnya Duit

- detikNews
Senin, 14 Apr 2008 12:22 WIB
Jakarta - Rudi kini tidak parlente lagi. Setelah keluar dari jabatan staf ahli salah seorang anggota dewan, penampilannya agak fungky. Ia mengaku keluar dari jabatan empuknya karena tidak tahan melihat kelakuan anggota DPR.
 
Saat bekerja sebagai staf ahli DPR, Rudy lebih banyak diserahi tugas membuatkan daftar pertanyaan dan menggantikan bosnya yang anggota DPR, saat rapat dengan pejabat. "Setelah rapat biasanya diberikan titipan amplop coklat yang berisi duit," kata Rudi, anggota Slankers, komunitas penggemar SLANK kepada detikcom.
 
Rudy mengaku keluar karena pekerjaan itu bertentangan dengan hati nuraninya. Misalnya soal amplop dari para pejabat yang dititipkan kepadanya untuk diteruskan kepada bosnya. Biasanya Setelah memberikan uang titipan seusai rapat, Rudi dikasih uang Rp 500 ribu. Tapi lama-lama ia merasa risih juga. "Saya nggak kuat dengan kondisi seperti itu," jelas  Rudi yang mengaku sudah mendengarkan lagu SLANK sejak duduk di bangku SMP.
 
Ketika lagu Gosip Jalanan yang dinyanyikan SLANK mendapat reaksi keras dari Badan Kehormatan DPR, Rudi pun tidak tinggal diam. Ia kemudian memobilisasi teman-temannya sesama anggota SLANKer untuk membantu.
 
Menurut Rudi, sebaiknya  para wakil rakyat yang ada di senayan itu lebih mawas diri saat dikritik oleh rakyat yang memilihnya. Dan ternyata sindiran 5D alias datang, duduk, diam dan dapat duit, yang dulu sempat disematkan kepada anggota dewan memang terjadi.
 
Selain Slankers, ternyata personel SLANK juga ada yang orang tuanya menjadi anggota DPR. Dialah Abdee, sang gitaris SLANK. Ayah Abdee menjadi anggota DPR untuk periode 1992-1997. Tapi sang ayah rupanya anggota DPR yang 'lurus'. Meski menjadi anggota DPR, sang ayah tidak meninggalkan harta yang berlimpah. "Harta yang dilimpahkan ayah hanya satu rumah kecil dan satu mobil butut," kata Abdee kepada detikcom.
 
Padahal, menurut sumber detikcom, menjadi anggota DPR saat ini naif kalau tidak bisa mencari uang. Sebab banyak proyek yang mampir ke gedung tersebut. "Di kalangan DPR,  sudah lazim sang wakil rakyat mengejar target untuk mengganti biaya kampanye. Paling tidak dalam satu periode masing-masing anggota DPR bisa meraup uang Rp 15 miliar," ujar sumber tersebut.
 
Terinspirasi aroma "amplop" itu, SLANK kemudian menuliskannya dalam sebuah lagu berjudul "Gosip Jalanan". Lagu itu sebenarnya telah dirilis sejak 2005. Tapi herannya anggota DPR tidak senang ketika lagu tersebut dinyanyikan saat di gedung KPK. "Seharusnya DPR lebih fokus melihat nasib rakyat. Jangan mudah kesinggung hanya karena sebuah lagu," tegas Akhadi Wira Satriaji alias Kaka.
 
Lagu sindiran terhadap wakil rakyat bukan hanya dilakukan SLANK. Penyanyi balada Iwan Fals juga sempat membuat lagu soal kelakuan anggota DPR tersebut tahun 80-an. Lagu berjudul "Surat Untuk Wakil Rakyat" sempat begitu populer di masyarakat.
 
Dalam lagu itu digambarkan kalau anggota DPR, layaknya anjing penjaga yang hanya bicara, diam, duduk dan tertawa hanya bila disuruh penguasa yakni mantan presiden Soeharto. Tak heran kalau anggota DPR waktu itu lebih mirip disebut sebagai tukang stempel dibanding penyambung amanat rakyat.
 
Dulu mungkin Iwan melihat kondisi DPR sangat takut kepada penguasa. Tapi sekarang para wakil rakyat begitu tegas menyoroti kebijakan pemerintah. Mereka juga bekerja giat dalam merancang Undang-Undang. Tapi sayangnya ujung-ujungnya duit. Kondisi inilah yang ingin disampaikan SLANK melalui lagu Gosip Jalanan.
 
Namun kenyataan yang ingin disampaikan mendapat sorotan dari sejumlah kalangan di DPR. Mereka merasa tidak happy dan dirusak harga dirinya. Tapi di satu sisi ada Al Amin Nasution yang ditangkap KPK karena diduga menerima uang suap dari pejabat.

(ron/ddg)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT