"Kami juga membahas mana persenjataan tua yang harus diganti, dengan jenis apa, negara mana atau bisa produksi dalam negeri," kata Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso usai mengikuti pertemuan dengan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono di Kantor Dephan, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (11/4/2008).
Menurut Djoko, kajian terhadap persenjataan ini muaranya harus tetap pada postur pertahanan yang telah disusun. Dari postur pertahanan itu akan terlihat ancaman apa yang akan terjadi pada 10 tahun ke depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Panglima TNI dalam kesempatan itu mengatakan, dalam pertemuan Menhan Juwono Sudarsono memberikan pengarahan untuk menghitung kembali kebutuhan alutsista pada 10 tahun ke depan. Hitungan ini berdasarkan kemampuan anggaran negara, kebijakan tri matra terpadu, kemudian menciutkan jenis-jenis alat persenjataan sehingga lebih efisien dan prioritas
penggunaannya.
"Kami kaji lagi, mana yang bisa pengadaan dari dalam negeri. Sehingga 10 tahun ke depan riil bisa dilaksanakan. Lebih hemat dan lebih baik, misalnya meriam. Kita punya kaliber 76 mm, 105 mm, dan 155 mm tidak terlalu banyak jenisnya, sehingga pemeliharaannya lebih gampang," ujarnya. (zal/ndr)











































