Kejadian pada pukul 01.00 Kamis (10/4/2008) dini hari, di Jl Diponegoro. Namun baru diketahui saat keenam warga ini mendatangi Mapolres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease.
"Kami sudah menerima laporan itu," ujar Kapolres Pulau Ambon, AKBP Didiek Widjanarko, kepada detikcom.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kata sejumlah anggota Pomdam, masalahnya diselesaikan di Pomdam saja," ujar Kapolres, meniru anak buahnya yang bertugas piket malam.
Dari keenam korban itu, salah satu korban, Peter Matahelemual, yang juga tukang ojek ini, masih terbaring di RS Gereja Protestan Maluku (GPM), Jl Anthony Reebok. Korban mengalami luka memar dan pendarahan pada hidung, kelopak mata kanan, hidung bengkok,lecet pada pinggul dan siku tangan kanan dan kiri.
Β
Saat dijenguk detikcom, korban juga belum bisa berbicara, karena mulut korban mengalami luka serius. "Dia belum bisa berbicara karena sakit," ujar ibunda korban, Lisa Matahelemual.
Menurut Lisa, pagi tadi empat anggota Pomdam berpakaian dinas lengkap juga mendatangi korban. "Mereka memeriksa luka-luka dan kondisi anak saya," ujar Lisa.
Kendati akan diselesaikan pihak Pomdam, namun Ny Lisa tetap bertekad akan menyelesaikan kasus ini melalui jalur hukum. "Saya tetap memproses hukum kasus ini. Anak saya jadi korban amukan anggota TNI," ketusnya.
Menurut Ny Lisa, sebagaimana diungkapkan anaknya, saat kejadian anaknya dan sejumlah rekan-rekan ojek, becak dan tukang parkir seperti biasanya sedang mangkal di Jl Diponegoro. Tiba-tiba saja datang oknum Pomdam dan sejumlah temannya berpakaian preman langsung mengamuk dan memukul sejumlah warga, termasuk anaknya.
"Tak tahu penyebabnya apa. Tiba-tiba saja, mereka dipukuli," cerita Ny Lisa.
Sementara itu, hingga berita ini naik, belum ada pernyataan resmi dari Komandan Pomdam XVI Pattimura terhadap kasus ini. (han/mly)










































