Tak Jera Terbunuh Berkali-Kali

Gebrakan Akbar Tandjung (3)

Tak Jera Terbunuh Berkali-Kali

- detikNews
Kamis, 10 Apr 2008 12:59 WIB
Tak Jera Terbunuh Berkali-Kali
Jakarta - Mantan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill mengatakan "Politik nyaris sama menggairahkan dengan perang, dan sungguh berbahaya. Bedanya, kalau dalam perang terbunuh hanya satu kali, tapi dalam politik bisa berkali-kali.

Ungkapan negarawan ini rupanya dipegang teguh Akbar Tandjung. Baginya, sekalipun kariernya sempat pupus di arena konvensi saat penjaringan capres dan lengser dari kursi ketua Umum Partai Golkar, ia tidak merasa patah semangat. Dengan modal politik yang ia miliki, mantan Ketua Umum Partai Golkar itu, kini siap bertarung di Pemilu 2009.

"Pada usia 32 tahun, saya diangkat menjadi anggota DPR, pernah menjabat Menpera, Mensesneg, dan Ketua Umum Golkar. Itu adalah modal saya untuk maju," begitu kata Akbar dalam memberikan sambutan dalam peluncuran situs miliknya, pekan lalu.

Dengan kata lain, Akbar coba mengungkapkan kalau dirinya bukanlah politisi karbitan. Keberhasilannya meraih puncak kekuasaan di Partai Golkar merupakan hasil kerja keras sejak lama. Dari pengalaman itu, ia tidak merasa jengah untuk berjuang kembali merebut kekuasaan yang pernah lepas dari genggamannya. Setidaknya ia berharap bisa mendapatkan kekuasaan di pemerintahan mendatang sebagai modal untuk "menebus" kader-kadernya yang sempat berlarian ke barisan Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla.

"Hanya dengan power kader-kader Golkar yang dulunya "dipinjamkan" bisa kembali lagi," kata Alfan Alfian, orang dekat Akbar.

Lain Akbar lain pula Wiranto, bekas pesaingnya di ajang Konvensi capres Partai Golkar. Sekalipun Wiranto juga siap "perang" di Pemilu 2009, namun ia tidak lagi berharap di Golkar, partai yang sempat mencalonkan dirinya sebagai capres pada Pemilu 2004. Mantan Menhan/Pangab di era presiden Habibie tersebut lebih memilih mendirikan partai baru bernama Hanura.

Untuk mempersiapkan diri menghadapi ajang demokrasi terbesar di Indonesia tersebut, ia sudah jauh-jauh hari berbenah dengan partainya itu. Ia sering wara-wiri mendatangi daerah-daerah untuk membentuk DPD-DPD." Hampir setiap hari bapak pergi ke luar kota melakukan konsolidasi," jelas Erlan, ajudan Wiranto kepada detikcom. Karena alasan itu pula, ia mengaku sulit untuk menghubungkan detikcom dengan Wiranto untuk diwawancarai.

Bukan hanya Wiranto yang sibuk mondar-mandir ke sejumlah daerah untuk mempersiapkan diri menghadapi pemilu mendatang. Sejak dideklarasikan 12 Desember 2006, Kantor DPP Hanura yang terletak di Jalan Diponegoro, tidak pernah sepi. Sejumlah kader maupun simpatisan silih berganti datang ke situ mengurus sejumlah keperluan partai.

Kekuatan Akbar dan Wiranto dalam menghadapi pemilu, menurut sejumlah pengamat, masih sangat berpeluang. "Akbar sampai saat ini masih layak diperhitungkan pada pemilu 2009, begitupun dengan Wiranto," jelas politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Fahri Ali.

Akbar, menurut Fahri, masih punya nama d ikalangan tokoh-tokoh politik, sekalipun sudah tidak punya kekuasaan lagi di Golkar. "Tapi bila Akbar kemudian bergabung dengan salah satu partai besar dalam pilpres, bisa menjadi kekuatan yang dahsyat," ujar Fahri.

Ia kemudian memberi contoh, bila Akbar bergabung dengan Megawati Soekarnoputri dalam pilpres, tentu bisa menjadi kekuatan dahyat. Sebab selain bisa memperoleh dukungan suara dari PDIP, partainya Mega, sebagian besar kader Golkar juga akan berbalik arah mendukung Akbar.

"Sebab duet ini sangat menjanjikan. Dan sudah jadi karakter orang-orang Golkar, bila ada kekuatan yang berpeluang meraih kekuasaan maka mereka akan segera merapat. Begitupun jika Akbar berduet dengan SBY," ungkap Fahri.

Sedangkan Wiranto, di mata Fahri, lebih mengandalkan purnawirawan, sempalan partai Demokrat dan beberapa elit Golkar di daerah. Apalagi saat ini sifat pragmatis yang masih melekat di sebagian besar kader Golkar. Bila ada peluang yang menjanjikan, bisa dipastikan sederet elit Golkar akan berubah haluan.

Fahri pun memprediksi pertarungan dalam pilpres 2009, suara Golkar akan terpecah-pecah. Sebab dalam pertarungan politik pilpres suaranya tidak sama seperti di pemilu legislatif. "Kalau di pemilu legislatif suara partai ibaratnya gelondongan. Tapi kalau pilpres ibarat eceran. Karena suaranya individual," kata Fahri.

Tapi meski dianggap masih punya kekuatan dan pengaruh di tubuh partai berlambang pohon beringin itu, pengamat politik UI Maswadi Rauf menilai, peluang Akbar kecil di Pilpres 2009. "Kalau tidak konvensi kecil peluangnya. Tetapi tetap ada karena dianggap punya pengaruh dan kekuatan. Dia kan juga pernah menjadi ketua umum dan faksi Akbar juga masih ada," ujar Maswadi.

Sedangkan menurut Syaiful Mujani, jika Akbar ingin maju dengan partai Golkar harus dapat dukungan dari elit di tingkat pusatnya. Kalau hanya menguasai elit daerah Akbar tetap akan kesulitan menguasai pertarungan di Golkar.

Namun dari sinyal-sinyal yang diperoleh detikcom dari orang-orang dekat Akbar, kemungkinan suami Krisnina Maharani ini akan bergerak di luar partai Golkar dalam menghadapi pilpres 2009. Sebab peluang konvensi sudah tertutup rapat. (ddg/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads