Keok Oleh Dana Unlimited

Gebrakan Akbar Tandjung (2)

Keok Oleh Dana Unlimited

- detikNews
Kamis, 10 Apr 2008 11:08 WIB
Keok Oleh Dana Unlimited
Jakarta - Ahad, 19 Desember 2004, merupakan saat yang menyedihkan bagi Akbar Tandjung. Dalam acara Musyawarah Nasional (Munas) Golkar yang digelar di Bali, Akbar dipecundangi Jusuf Kalla, yang waktu itu duduk sebagai fungsionaris DPP Partai Golkarn sekaligus wakil presiden, dalam perebutan Ketua Umum DPP Golkar periode 2004-2009.

Setelah kekalahan itu, Akbar pun seakan menghilang dari kancah politik dan menyibukan diri dengan melanjutkan kuliah S3 di Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun sesekali ia membuat beberapa terobosan, seperti mendirikan Akbar Tandjung Institut (ATI), April 2005. Di bulan Agustus tahun yang sama, ia kemudian membentuk ormas Masyarakat Barisan Indonesia (Barindo).

Terobosan-terobosan itu, bagi Alfan Alfian, Direktur Riset dan Publikasi ATI, merupakan kepiawaian Akbar sebagai seorang politisi ulung. "Akbar selalu bisa menciptakan momentum di tengah keterbatasan," jelas Alfian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Begitupun dengan situs www.bangakbar.com, yang baru-baru ini dirilis Akbar, kemudian mengundang sejumlah tanggapan dari banyak kalangan. Situs ini disebut-sebut sebagai langkah Akbar bertarung di Pemilu 2009.

Situs resmi milik Akbar ini memuat beragam berita terkait aktivitas Akbar dan pandangan-pandangan politiknya. Bahkan dalam situs itu juga, Akbar memaparkan situasi yang terjadi saat Munas Golkar yang memaksanya turun tahta dari posisi ketua umum di partai itu.

Dalam www.bangakbar.com, mantan Ketua Umum Golkar ini menguraikan kondisi yang terjadi saat pemilihan ketua umum. Menurut Akbar, kekalahan yang diterimanya karena ia kalah power dengan Jusuf Kalla. Soalnya Kalla memiliki kekuasaan dan uang yang unlimited alias tidak terbatas. Sementara mental politik orang-orang Golkar masih pragmatis. Nah, ketika ada tawaran kekuasaan dan uang, serempak sebagian besar pendukungnya beralih memilih Kalla.

Selain itu, Akbar juga mengkritik kebijakan Kalla yang tidak pro kepada kader di akar rumput. Ia kemudian berkesimpulan, hampir 80% kader Golkar di daerah merasa kecewa. Sebab mereka merasa pimpinan pusat tidak bisa memberikan inspirasi dan dorongan."Seharusnya Golkar konsisten sebagai kekuatan demokrasi dengan memperkuat basis dukungan di tingkat bawah," jelas Akbar.

Kalla juga dianggap sebagai pemimpin yang tidak memberikan picture Golkar ke depan. Padahal, katanya lagi, Politik harus membangun harapan.

Kritikan-kritikan Akbar yang dimuat dalam situsnya tersebut tentu saja membuat gerah kubu Kalla. "Itu pernyataan provokatif," tegas Ketua DPP Partai Golkar Firman Subagyo. Firman pun menganggap kritik Akbar mencerminkan sikap tidak legowo dari mantan Ketua Umum PB HMI tersebut.

Ketua Bidang Politik DPP Partai Golkar Syamsul Muarif juga mengungkapkan kekecewaan yang sama terhadap Akbar. Sebab, kata Muarif, kritikan itu seharusnya disalurkan pada forum yang tepat yakni forum resmi partai. Di forum itu, kualitas kepemimpinan ketua umum Golkar yang sekarang baru bisa dinilai, setelah ada laporan dari seluruh pengurus daerah hadir.

Sekalipun sering terlibat saling sindir antara Akbar Tandjung dan kubu Kalla, menurut Alfan Alfian, hubungan Akbar dan Kalla secara pribadi baik-baik saja. "Akbar sering kontak-kontakan dengan Jk. Begitu pun sebaliknya. Sebab kritikan antara Akbar dan Jk hanya sebatas pandangan politik saja," pungkas anak buah Akbar tersebut.

(ddg/iy)


Berita Terkait