Beberapa tamu yang datang menyambangi Akbar antara lain, pengurus Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), politisi muda di DPR yang tergabung dalam kabinet bayangan serta duta besar AS untuk Indonesia Cameron R Hume.
Kedatangan para tamu selain bersilaturahmi juga berdiskusi tentang berbagai hal, terutama masalah politik terkini di Indonesia. Di markas ATI memang sudah tersedia ruangan tempat kumpul-kumpul dan berdiskusi. Ruangan yang ada di bagian tengah bangunan itu luasnya 4x6 meter dan dilengkapi sofa yang mampu menampung 15 orang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aksi kumpul-kumpul itu kemudian diasumsikan sejumlah kalangan kalau Akbar kini sedang bersiap-siap menghadapai Pemilu 2009, yang akan digelar setahun lagi. Asumsi ini diperkuat dengan diluncurkannya situs pribadinya: www.bangakbar.com, yang memuat berita-berita seputar kegiatan Akbar berikut pandangan politiknya.
Situs tersebut resmi diperkenalkan kepada publik 5 April lalu, di Hotel Kartika Chandra. Dalam acara tersebut sejumlah tokoh penting ikut hadir. Mereka antara lain, mantan Presiden Abdurahman Wahid, mantan Presiden BJ Habibie beserta Ny Ainun Hasri Habibie, mantan Menneg LH yang kini menjadi Wantimpres Emil Salim, tokoh Muhammadiyah yang juga mantan Mendiknas Malik Fadjar, Wakil Ketua DPD Erman Gusman, anggota DPR dari Golkar Ferry Mursyidan Baldan, pengusaha Sudwikatmono, dan tokoh-tokoh lain.
Bisa dibilang acara itu tak sekadar pembukaan situs resmi milik Akbar, melainkan juga sebagai ajang unjuk diri politikus yang terkenal lihai tersebut. Setidaknya Akbar ingin menyampaikan pesan kalau dirinya memang layak diperhitungkan dalam pemilu mendatang. "Kita lihat saja. Tapi saat ini saya masih mencermati perkembangan politik yang berkembang, baik di Golkar maupun di partai-partai lain," ujar Akbar.
Bagi sejumlah politisi muda di DPR, seperti Yuddy Crisnandi (FPG), Rama Pratama (FPKS), Agus Purnomo, Abdullah Azwar Anas (FKB), Ario Widjanarko (FKB), Sahrin HAmid (FPAN), dan Ana Mu'awanah, sosok Akbar masih dianggap sebagai idola yang memenuhi kualifikasi untuk memimpin Indonesia. Para politisi yang tergabung dalam Kaukus Muda Parlemen bahkan mendorong Akbar untuk maju sebagai capres pada Pilpres 2009.
Persoalannya, Akbar tidak punya kendaraan politik yang bisa mengantarkan kepada tujuan tersebut. Sebab sekalipun ia bekas ketua umum, sekarang ia sudah tidak ada apa-apanya di partai berlambang beringin itu. Alfan Alfian, anak buah Akbar mengibaratkan, saat ini Akbar tidak ubahnya pendekar tangan kosong yang berjalan sendirian. Ia tidak punya pasukan dan tidak punya kekuasaan, baik di partai maupun pemerintahan.
"Para pendukung Akbar di Golkar saat ini lagi 'dipinjam' oleh pihak lain. Tapi sewaktu-waktu Akbar akan mengambil pasukan yang 'dipinjam' tersebut," begitu kata Alfian.
Ia menambahkan, untuk menarik kembali para pendukungnya di Golkar, hanya bisa dilakukan dengan memiliki kekuasaan di pemerintahan. Alasannya, sebagian besar kader Golkar bersifat pragmatis. Mereka dinilai lebih menomersatukan peluang, baik politik, karier, ekonomi, dibanding sikap loyalis kepada orang orang yang telah berjasa bagi partainya. "Hanya dengan kekuasaan pragmatisme tidak bisa berjalan," imbuhnya.
Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia Syaiful Mujani juga sependapat kalau para kader Golkar lebih mementingkan peluang dan prospek. "Itu sudah jadi karakter partai tersebut. Bila Akbar dilihat berpeluang memegang kekuasaan mereka akan bergeser mendukung Akbar," jelasnya.
Seberapa besar peluang Akbar berkiprah di pentas Pemilu 2009? Peluang itu masih sangat terbuka, kata Mujani. Sebab sebagai politisi senior dan piawai seperti Akbar, apapun bisa mungkin terjadi.
Sedangkan Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum mengatakan, pemilu 2009 ibarat buku yang terbuka bebas. Siapa pun pasti memiliki peluang, termasuk Akbar Tandjung. Tinggal bagaimana Akbar memanfaatkan momentum yang ia dapat.
(ddg/iy)











































