Para siswa itu tergiur melakukan PKL di PT Nursarindo Putra. Sebab mereka dapat menjadi anak buah kapal asing dengan imbalan gaji US$ 140.
Salah satu guru di SMK tersebut, Nav, pun membantu ketujuh siswanya untuk membuat paspor. Nav memang berperan penting menyalurkan siswanya untuk magang ke PT Nursarindo Putra, sebab perusahaan itu memang telah meminta guru tersebut untuk membantunya.
Saat berlayar, para siswa itu dipaksa bekerja keras tanpa mendapatkan gaji. Selanjutnya, para abege itu akan dijual kepada penadah di Eropa maupun Afrika.
"Ada laporan dari masyarakat, lalu kami tindak lanjuti. Kami bekerja sama dengan KBRI untuk menyelamatkan 7 orang siswa SMK tersebut. Kami telah kembangkan dan kami tangkap 4 orang," kata Wakadiv Humas Mabes Polri Brigjen Pol Anton Bachrul Alam.
Hal itu disampaikan dia dalam keterangan pers di Bareskrim Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Rabu (9/4/2008).
4 Orang yang telah diamankan polisi adalah Her yang merupakan Dirut PT Nursarindo Putra, Win yang menjadi manajer marketing, Sug sebagai manajer personalia dan Toh yang menjadi calo. Sedangkan guru Nav tidak turut diamankan karena hanya dimanfaatkan oleh komplotan tersebut.
Menurut Anton, para korban ditemukan di kapal Mauritius yang sedang bersandar di Nairobi, Kenya. Dari tangan para korban ditemukan paspor, buku pelaut dan travel port view-trip. Sesampainya di Indonesia, mereka dirawat di RS Polri. Kini, para abege itu dititipkan di Rumah Perlindungan Anak Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Sedangkan dari tersangka, polisi mengamankan barang bukti berupa akte pendirian PT serta suarat-surat administrasi seperti fotokopi surat izin pelayaran dan perjanjian kerja laut.
"Kepada para pelaku kami kenakan UU No 21/2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang, UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak dan KUHP," tandas Anton. (nvt/nrl)











































