"Di mana pun partai politik ingin menjaring sebanyak mungkin konstituen. Tetapi itu bukan alasan utama kami menggelar simposium ini," kata Ketua Bidang Hubungan Internasional PP Baitul Muslimim Indonesia, Helmi Hidayat.
Hal ini disampaikan Helmi dalam jumpa pers di Sekretariat BMI, Jalan Tebet Barat Dalam, Jakarta Selatan, Selasa (8/4/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bahwa implikasi yang kami lakukan itu persuasif terhadap umat Islam tentu itu tidak terhindarkan," ujarnya.
Dikatakan dia, landasan formal digelarnya simposium yang mengenang ketokohan ulama dan sastrawan besar itu adalah mengangkat figur Hamka agar tetap menjadi bagian dari masyarakat Indonesia.
Menurut Helmi, semasa hidupnya Hamka secara politis berseberangan dengan mantan Presiden Soekarno. Namun hal itu dinilai sebagai konsekuensi keberadaan Hamka sebagai tokoh nasional.
"Yang juga jadi menarik ketika PDIP yang membawa misi Soekarno justru mengangkat tokoh Hamka. Ini semacam rekonsiliasi sejarah, rekonsiliasi politik yang baik untuk bangsa Indonesia," kata dia.
Helmi berjanji tokoh nasional lainnya juga akan diusung BMI. "Hamka hanya starting point saja. Nanti pasti akan ada tokoh nasional lainnya yang akan kami angkat asalkan momentumnya pas. Kami tidak pandang bulu apakah Kristen, Hindu, maupun Budha," ujar Helmi.
Simposium 100 Tahun Buya Hamka yang bertajuk 'Membina pluralisme, membangun peradaban demokratis' akan digelar Kamis 10 April 2008 di Hotel Bumikarsa, Kompleks Bidakara, Pancoran, Jakarta. Acara ini akan dibuka Sekjen DPP PDIP Pramono Anung dan Taufiq Kiemas. (aan/aba)











































