Hal itu terungkap dalam dialog Duta Besar Belanda Nikolaos van Dam dengan ormas Islam Indonesia, sejumlah dubes negara-negara muslim, dan perwakilan negara Islam di Kantor PP Muhammadiyah, Jl Menteng Raya, Jakarta Pusat, Senin (7/4/2008).
Dubes Turki untuk Indonesia Aydin Ersigen mengatakan, Fitna tidak bisa diterima umat muslim. Aydin menyoroti kebebasan berekspresi di Belanda. Kebebasan itu menurutnya tidak bisa diartikan seenaknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Aydin menduga, lahirnya film tersebut disebabkan ada perhatian khusus negara Barat terhadap gerakan-gerakan radikal di negara muslim. Oleh karena itu, Aydin mengajak negara muslim mengatasi gerakan radikal tersebut dan tidak lupa mengadakan dialog untuk menghilangkan perbedaan persepsi antara Barat dengan negara Islam.
"Itu tanggung jawab kita untuk mengatasi gerakan radikal. Meningkatkan dialog untuk menghilangkan perbedaan pandangan," kata Aydin.
Dubes Mesir untuk Indonesia Sayed Toha Assayed mengatakan, kebebasan berekspresi tidak bisa bersifat absolut. Sayed pun dapat memahami kemarahan umat muslim atas kemunculan film tersebut.
"Orang muslim percaya pada nabi dan kitab sucinya Alquran. Orang lain tidak bisa menghina," ujar Sayed.
(nik/aba)











































