Asal Populer, Kualitas Belakangan

Selebriti dan Politik (2)

Asal Populer, Kualitas Belakangan

- detikNews
Senin, 07 Apr 2008 11:39 WIB
Asal Populer, Kualitas Belakangan
Jakarta - "Untuk menjadi presiden itu tidaklah sulit. Asalkan didukung masyarakat Indonesia, bisa mengumpulkan massa sebanyak-banyaknya, serta berbaik-baikan dengan pers," kata Iwan Fals, beberapa tahun lalu.

Iwan, penyayi balada yang namanya begitu beken di Indonesia sejak orde baru, sekalipun lagu-lagunya sering dicekal begitu pun pementasannya kala itu. Sebagai musisi yang pernah "dizalimi" penguasa orde baru, nama Iwan semakin bersinar di era reformasi. Penyanyi bernama lengkap Virgiawan Listanto ini bahkan sempat didesak para penggemarnya untuk mencalonkan diri sebagai presiden karena kepopulerannya itu. Tapi permintaan itu ditolak Iwan dengan berbagai alasan.

Sejumlah partai besar maupun kecil kemudian berlomba untuk meminang Iwan. Tujuan meminang cuma satu, yakni kepopuleran Iwan diharapkan bisa mendongkrak perolehan suara partai. Tapi ayah almarhum Galang Rambu Anarki dan Annisa Cikal Rambu Basae juga menolaknya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dibayar berapapun, aku tidak mengisi acara salah satu partai tertentu!" tegas Iwan ketika ditanya wartawan, menjelang Pemilu 2004 lalu. Alasan Iwan waktu itu, dirinya tidak mau dimanfaatkan para politisi hanya demi memperoleh dukungan masyarakat.

Kepopuleran selebriti semacam Iwan misalnya, tentu mengundang hasrat sejumlah partai. Tidak heran banyak partai kemudian berupaya mengejar sejumlah artis atau orang-orang ngetop di masyarakat untuk diajak gabung. Kehadiran mereka diharapkan bisa menjual nama partai ke masyarakat.

Menjelang pemilihan umum atau pilkada, partai politik mulai berlomba merekrut sejumlah orang terkenal, misalnya dari kalangan artis. Sejumlah nama selebriti kemudian mengisi daftar nama kader-kader unggulan partai, seperti di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Demokrat dan PAN.

Beberapa pekan lalu, PDIP bahkan mengumumkan nama selebriti yang menjadi kader banteng, yakni Rieke Dyah Pitaloka, Mandra, dan Rano Karno. Setahun belakangan, partai berlambang kepala banteng ini dikabarkan paling getol merekrut sejumlah selebriti. Rano Karno kemudian berhasil mejadi Wakil Bupati Tangerang mendampingi Ismet Iskandar.


Di Partai Demokrat, dua artis yang jadi kadernya berhasil duduk di Senayan menjadi anggota DPR. Mereka adalah aktor Adji Masaid dan bekas Putri Indonesia 2001, Angelina Sondakh. Sementara PAN, saat ini tengah memperjuangkan aktor Dede Yusuf untuk menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat mendampingi calon gubernur Ahmad Heryawan. Kader PAN lainnya, Wanda Hamidah, saat ini juga sedang siap-siap mendampingi Wahidin Halim (incumbent) untuk maju di pilkada Kota Tangerang, Oktober mendatang.

Fenomena ini, menurut pandangan Dewi Fortuna Anwar, merupakan refleksi kecederungan parpol ingin meraih jalan pintas. Akhirnya banyak parpol mencalegkan selebritis daripada memajukan tokoh politik baru. Hal ini disebabkan pemilihan langsung menuntut tokoh atau figur yang lebih dikenal masyarakat. "Selebritis saat ini memang diminati parpol," jelas Dewi Fortuna kepada detikcom.

Dewi Fortuna menjelaskan, pencalonan selebriti oleh parpol sebenarnya bukanlah fenomena politik yang besar. Ia juga mengatakan, fenomena ini tidak lantas disebut sebagai proses pendewasaan politik. Sebab kebanyakan selebriti yang bergabung bukan dengan dasar kemauan politiknya sendiri dan menyuarakan aspirasi masyakarat. Mereka bergabung hanya bersifat pasif karena dilamar oleh parpol.

Karenanya, fenomena ini tidak dapat disamakan dengan apa yang terjadi di AS dengan tampilnya Ronald Reagen atau Arnold Schwarzeneger sebagai tokoh politik. Keduanya, menurut Dewi Fortuna bukan dilamar parpol, melainkan mencari parpol yang bisa mengakomodir kepentingan politiknya.

"Yang saya khawatirkan selebriti tersebut tidak kerasan dalam dunia perpolitikan. Kan mereka tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Sebab dunia politik bukan sebatas kampanye pemilu," tandasnya.

Pakar komunikasi massa Effendi Ghazali mengatakan, bahwa seorang calon pemimpin daerah yang ingin memenangkan pertarungan dalam pilkada haruslah menjadi selebriti. "Selebriti, selain dengan atribut-atribut gaya hidup yang melekat padanya, ia adalah tokoh yang wajahnya dinanti-nantikan kemunculannya di media massa, dengan penampilan yang serba glamournya," ujar Effendi kepada detikcom.

Begitulah ukuran-ukuran standar yang dikehendaki masyarakat Indonesia saat ini terhadap seorang tokoh versi Ghazali. Sehingga, saat ini gejala selebritas bukan hanya menyelimuti para artis. Tapi sudah menyebar ke banyak profesi, terutama politisi. Sehingga, ada bupati yang selebriti, walikota yang selebriti, gubernur yang selebriti, pengacara selebriti, bahkan ulama selebriti. Dengan gaya semacam itu seorang tokoh atau pemimpin bisa populer di masyarakat. (ron/ddg)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads