Akbar Sebut Permainan Uang, Jusuf Kalla, dan Yahya Zaini

Akbar Sebut Permainan Uang, Jusuf Kalla, dan Yahya Zaini

- detikNews
Sabtu, 05 Apr 2008 12:41 WIB
Akbar Sebut Permainan Uang, Jusuf Kalla, dan Yahya Zaini
Jakarta - Politisi senior Akbar Tandjung meluncurkan situs pribadinya, www.bangakbar.com. Peluncuran situs Akbar ini cukup meriah, dihadiri banyak tokoh. Dalam situs barunya itu, Akbar bercerita tentang permainan uang yang menjungkalkannya, Jusuf Kalla dan Yahya Zaini.

Saat detikcom membuka situs ini, Sabtu (5/4/2008), sudah cukup banyak artikel yang tercantum, meski sejumlah artikel hanyalah kliping dari media massa. Dari banyak artikel itu, wawancara Akbar Tandjung cukup menarik perhatian. Dia menceritakan tentang dikalahkannya oleh Jusuf Kalla dalam Munas Golkar 2004 lalu, tentang permaian uang, dan juga Yahya Zaini, politisi Golkar yang kesandung video porno bersama penyanyi dangdut Maria Eva.

Berikut penuturan Akbar yang dipublikasikan di www.bangakbar.com:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat ini, setelah tak masuk struktur organisasi, Anda merasa berjarak dengan Golkar?

Dari segi aspirasi dan ideologi perjuangan, saya tetap merasa dekat dengan Golkar. Saya memahami dan menghayati betul aspirasi dan ideologi Golkar. Hanya saja, dalam hal aktualisasi politik, antara Golkar yang sekarang dengan Saya memang terdapat perbedaan pendapat.

Anda all out membela dan menyelamatkan Golkar pada 1999 disaat Golkar di ambang kehancuran. Tiba-tiba Anda dipotong di tengah jalan. Bagaimana perasaan Anda?

Tentu saja saya kecewa. Tetapi saya tidak bisa berbuat apa-apa, karena semua yang terjadi sesuai dengan aturan main organisasi. Saat itu saya kalah power dengan Jusuf Kalla. Ketika Munas di Bali Jusuf Kalla (JK) didukung oleh tokoh-tokoh yangg mempunyai kepentingan yang sama, seperti: Ginandjar, Agung Laksono, Aburizal Bakrie, Surya Paloh, Muladi, Sultan Hamengkubuwono X dan Fahmi Idris. Sebagai Wakil Presiden, JK memiliki kekuasaan dan uang yang unlimited. Masalahnya, saat itu mental politik orang-orang Golkar masih pragmatis. Tiba-tiba ada tawaran kekuasaan dan uang. Akhirnya Saya runtuh dan mereka mendukung JK.

Apa maksud Anda dengan 'permainan uang' itu?

Ya, artinya memang ada permaina uang. Hal itu sungguh-sungguh terasa. Akhirnya mereka yang menang. Padahal, saat menyampaikan pidato pertanggungjawaban, saya diterima dengan applause dan standing ovation. Bahkan dua kali standing ovation. Ironisnya, hanya dalam waktu dua jam kemudian, orang yang memberikan standing ovation tadi justru berbalik.

Mengapa itu bisa terjadi?

Banyak orang-orang yang tak berhak berada di ruangan, tapi justru menguasai jalannya sidang. Soalnya, pada saat JK datang dengan kawalan Paspampres, banyak orang tak dikenal masuk dan justru menjadi pressure group-nya JK. Ada beberapa yang datang dari Sulawesi. Para penjaga Munas tak bisa menghalangi mereka masuk karena mereka datang bersamaan dengan pengawalan Paspampres. Jadi mereka bermain kasar.

Mengapa Anda tak menskors sidang?

Waktu suasana sudah chaos saya bilang ke ketua sidang, Abdul Gaffur. Saya bilang keadaan sudah tidak kondusif dan meminta sidang diskors. Saya juga minta agar ketua delegasi bertemu saya sebagai Ketua Umum. Tapi, gerombolan presure grup itu berteriak-teriak meminta agar sidang diteruskan. Akhirnya Pak Gafur, mungkin karena tekanan atau interest tertentu meneruskan sidang. Saat itu saya sadar bahwa keadaan sudah dikuasai mereka.

Anda merasa ada kelompok penghianat ?

Tentu ada. Termasuk Yahya Zaini (mantan petinggi Golkar yang terseret kasus video porno, red.). Saya yang merekrut Yahya untuk masuk Golkar dari bukan siapa-siapa. Saya besarkan dia sampai jadi orang. Waktu konvensi, saya lihat Yahya sudah main mata dengan Aburizal. Saya lihat mobilnya sudah berubah, ha ha ha. (asy/asy)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads