Uap belerang ini berbentuk butiran salju dan melayang di udara mengikuti aliaran angin. Akibat terkena hujan abu, tanaman padi menguning, pertumbuhan kerdil dan bulir padi 50 persen hampa. Sedangkan sayuran tertentu seperti cabai, tomat dan bayam mengalami rontok daun dan buah.
Menurut Muhyar (38), petani di Talang Kecepul Kelurahan Gunung Dempo, Pagaralam Utara, beberapa minggu lalu saat hujan tidak turun, beberapa hari terjadi hujan abu. Akibatnya tanaman kol pada bagian daun banyak berlobang dan terdapat bintik-bintik seperti terbakar. Tanaman cabai justru rontok daun dan buah kemudian setelah beberapa minggu langsung mati.
"Lihat saja daun kol, sawi yang kami tanam banyak bintik-bintik hitam dan ada yang langsung berlobang setelah terkena hujan abu. Tahun 2006 lalu puluhan hektar tanaman cabai dan sayur gagal panen, rusak akibat terkena hujan abu. Memang hampir setiap tahun terjadi hujan abu, saat pergantian musim dari kemarau kepada hujan,” kata Muhyar, Jumat (4/4/2008).
Muhyar lebih lanjut menuturkan, padi yang sekarang sudah memasuki usia dua bulan kondisi daunnya mulai menguning dan buahnya juga banyak terlihat tidak berisi. Hal ini bisa terjadi disebabkan saat penanaman terkena hujan abu.
Hal yang sama dikatakan Doni (28), petani Kerinjing Kelurahan Agung Lawangan. Tahun lalu banyak sekali petani yang gagal panen akibat terkena hujan abu, apalagi bila lokasi lahan berada di daerah kaki Gunung Dempo.
"Kalau tanaman keras biasnya kalau mengenai putik atau calon buah langsung gugur, sedangkan sayuran merusak daun. Namun, memang ada beberapa tanaman sayur yang tahan seperti kol, sawi, kentang. Sementara tanaman berbuah kebanyakan kerdil dan tidak berbuah dan daunnya keriting," katanya.
Sebelumnya Kepala Dinas Pertaian Peternakan dan Perikanan Pagaralam, Safrin Tiap, mengatakan, hampir setiap tahun terjadi hujan abu tergantung cuaca. Disarankan agar petani memerhatian musim, saat pergantian panas ke hujan lebih baik menghindari menanam sayuran yang mudah rusak seperti cabai dan tomat.
"Kita tidak bisa berbuat banyak, karena kejadian tersebut merupakan proses alam dan sifatnya terjadi tanpa terduga," kata Safrin. (tw/djo)










































